Makanan Tradisional Salatiga yang Mulai Langka tapi Masih Dicari
- Cookpad.com
Salatiga, WISATA – Di balik geliat kuliner modern yang semakin menjamur di Kota Salatiga, ternyata masih tersimpan warisan rasa dari masa lalu yang mulai terlupakan. Makanan-makanan tradisional yang dulunya mudah ditemukan di pasar dan pinggir jalan, kini kian langka seiring berubahnya selera dan gaya hidup masyarakat. Namun, justru karena langka itulah, kuliner-kuliner ini masih terus dicari oleh para penikmat nostalgia dan pemburu cita rasa otentik.
Berikut ini adalah deretan makanan tradisional khas Salatiga yang mulai sulit ditemukan, namun masih diburu karena kelezatannya dan nilai historisnya. Beberapa di antaranya hanya dijual di waktu tertentu atau oleh generasi tua yang masih bertahan menjaga resep turun-temurun.
Dulunya makanan ini biasa dijumpai setiap pagi di pasar tradisional Salatiga. Grontol jagung terbuat dari jagung pipil tua yang direbus hingga empuk, lalu disajikan dengan kelapa parut dan sedikit garam. Teksturnya kenyal dan rasanya gurih-manis alami.
Kini penjual grontol bisa dihitung jari. Biasanya hanya bisa ditemui di sudut-sudut pasar pagi atau dijual keliling oleh ibu-ibu sepuh yang masih menjaga tradisi.
Lokasi rekomendasi: Pasar Raya Salatiga, pagi hari
Harga: Sekitar Rp5.000–Rp7.000
2. Jenang Sumsum
Makanan bertekstur lembut ini merupakan paduan dari tepung beras, santan, dan gula merah cair, disajikan hangat atau dingin. Rasanya manis, gurih, dan cocok sebagai takjil atau sarapan ringan.
Dulu, jenang sumsum dijajakan di pasar dan warung kaki lima. Kini hanya beberapa warung tradisional atau penjual keliling yang masih mempertahankan sajian ini, terutama saat bulan Ramadan atau hajatan tradisional.
Lokasi rekomendasi: Sekitar Pasar Sapi Lama
Harga: Rp5.000–Rp8.000
Lupis dan cenil adalah jajanan pasar yang disajikan bersama kelapa parut dan siraman gula jawa cair. Lupis berbentuk segitiga dan kenyal, sedangkan cenil berwarna-warni dan dibuat dari tepung tapioka.
Dulu hampir setiap pagi dijajakan di keranjang bambu oleh penjual keliling. Sekarang, hanya bisa ditemukan di pasar tradisional tertentu pada pagi hari, atau saat ada pameran budaya lokal.