Stoicisme: Dilema dan Pengambilan Keputusan Bijak

Marcus Aurelius Tokoh Stoicism dan Keluarga
Sumber :
  • La Monde

Malang, WISATA - Dalam pembahasan Stoicisme sebelumnya, kita telah berfokus pada kasus sederhana: seorang individu yang menimbang pilihan antara dua "adiaphora" (hal-hal yang tidak berpengaruh langsung pada kebahagiaan) yang saling berlawanan. Namun, kenyataannya proses pengambilan keputusan dalam kehidupan seringkali lebih kompleks.

img_title Panduan AI untuk Lansia, 6 Cara Praktis Bikin Hidup Sehari-hari Jauh Lebih Mudah

Stoicisme mengakui bahwa pengambilan keputusan dalam dunia nyata sering kali melibatkan:

  • Banyak aktor: Lebih dari satu individu yang terlibat dan terpengaruh oleh keputusan yang diambil.
  • Banyak pilihan: Tidak hanya dua "adiaphora" yang dipertimbangkan, tetapi lebih banyak pilihan yang harus ditimbang.
  • Keadaan yang rumit: Situasi yang dihadapi mungkin tidak secara langsung menunjukkan tindakan atau fungsi yang tepat.
img_title Panduan Lengkap Eksplorasi Hidden Gem dan Estimasi Budget Liburan Akhir Pekan di Pulau Bintan

Stoa menekankan bahwa kegagalan dalam melakukan "fungsi yang sesuai" (katahekon) bertentangan dengan prinsip "hidup selaras dengan alam". Oleh karena itu, para filsuf Stoa berupaya membantu individu berlatih mengambil keputusan bijak dalam situasi yang rumit.

Para filsuf Stoa Yunani menulis karya-karya yang berfokus pada "Fungsi yang Sesuai" (Peri Kathêkontôn), salah satunya adalah karya Panaetius yang menjadi dasar risalah Cicero berjudul "De Officiis".

img_title Menyingkap Sisi Teduh Likupang: Panduan Menemukan Ketenangan Jiwa di Sudut Utara Sulawesi

Asas Utama Stoa dalam Pengambilan Keputusan:

  • Menganggap "adiaphora" sebagai bahan baku kebijaksanaan: Individu berbudi luhur harus menimbang "adiaphora" secara objektif, terlepas dari preferensi pribadi, saat mengambil keputusan.
  • Keadilan dalam pembagian "adiaphora": Keadilan mengharuskan pembagian "adiaphora" yang adil kepada setiap individu.
  • Mengutamakan kepentingan bersama: Dalam situasi tertentu, individu berbudi luhur mungkin harus memilih "adiaphora" yang kurang disukai untuk dirinya sendiri demi kepentingan orang lain.

Sebagai contoh, dalam kondisi tertentu, "fungsi yang sesuai" bisa berarti mengorbankan hidup sendiri, misalnya untuk menyelamatkan orang lain atau menghindari penderitaan yang lebih besar di masa depan.

Meskipun mungkin tampak sederhana, Stoa tidak menganut aturan "memaksimalkan total 'adiaphora' yang disukai untuk sebanyak mungkin orang". Sebaliknya, para filsuf Stoa tidak memiliki prinsip tunggal untuk menentukan "fungsi yang sesuai" dalam setiap skenario (lihat Brennan 2005, bab 11-13).

Meskipun tidak ada rumus tunggal, para filsuf Stoa seperti Seneca menawarkan "panduan" atau "aturan praktis" untuk membantu individu menemukan keputusan yang tepat. Contohnya, dalam surat-surat moralnya, Seneca memberikan arahan untuk mengambil keputusan yang selaras dengan nilai-nilai dan kebijaksanaan.

Halaman Selanjutnya
img_title