Evolusi Mabuk: Mengapa Simpanse Gemar Mengonsumsi Buah Beralkohol?
- ar.inspiredpencil.com
Untuk memvalidasi temuan ini, peneliti menggunakan alat uji stik (dipstick) yang biasa digunakan di laboratorium klinis manusia. Mereka mencari zat bernama ethyl glucuronide, sebuah senyawa yang diproduksi tubuh saat memproses alkohol. Hasilnya mengejutkan, sebagian besar sampel menunjukkan kadar yang sangat tinggi. Bahkan, banyak di antaranya melampaui ambang batas klinis yang biasanya ditemukan pada manusia setelah meminum satu atau dua gelas minuman standar dalam waktu 24 jam.
Sumber utama "miras alami" para simpanse ini berasal dari pohon apel bintang (star apples). Meski kadar etanol dalam buah tersebut relatif rendah, hanya sekitar 0,09 persen, nafsu makan simpanse yang luar biasa membuat dampaknya menjadi signifikan. Seekor simpanse bisa melahap hingga 4,5 kilogram buah fermentasi dalam satu hari. Mereka benar-benar berpesta di atas pohon, menikmati setiap gigitan buah yang lengket, manis, dan sedikit menyengat karena fermentasi.
Hipotesis Drunken Monkey dan Akar Budaya Manusia
Robert Dudley, seorang ahli biologi yang pertama kali mengusulkan hipotesis drunken monkey pada tahun 2000, menyatakan bahwa temuan ini memberikan bukti fisiologis yang luas. Secara evolusioner, ketertarikan kita terhadap alkohol mungkin berakar dari kemampuan nenek moyang kita dalam mencium aroma buah matang. Aroma alkohol yang menyengat di tengah hutan yang lembap menjadi kompas alami yang mengarahkan mereka pada sumber energi besar yang diperlukan untuk bertahan hidup.
Bagi manusia modern, alkohol sering kali berfungsi sebagai pelumas sosial dalam sebuah pesta atau makan malam. Pertanyaannya, apakah simpanse juga merasakan efek psikoaktif yang sama? Apakah mereka merasa lebih rileks atau justru lebih agresif setelah makan besar? Meskipun para ilmuwan belum bisa memastikan apakah simpanse secara sengaja memilih buah karena kandungan alkoholnya, kesamaan perilaku ini memberikan petunjuk kuat bahwa kebiasaan minum manusia bukanlah produk budaya modern semata, melainkan warisan biologis yang sudah ada sejak jutaan tahun lalu.
Misteri Perilaku dan Manfaat Sosial di Atas Pohon
Dunia sains kini beralih pada pertanyaan yang lebih dalam: apa manfaat nyata dari efek mabuk bagi kehidupan liar simpanse? Ada kemungkinan bahwa alkohol membantu meredakan ketegangan dalam kelompok atau mempererat ikatan sosial antar individu. Seperti halnya manusia yang mengobrol lebih akrab sambil menikmati segelas anggur, simpanse mungkin menggunakan momen makan buah fermentasi ini untuk berinteraksi lebih santai dengan sesama anggotanya.