Selamatkan Primata Wonogiri, Setiadharma Foundation Tanam 700 Pohon Lewat Gerakan Jogo Alas
- infopublik.id
Wonogiri, WISATA – Berangkat dari keprihatinan atas kerusakan hutan yang kian parah, Setiadharma Foundation menggulirkan gerakan Jogo Alas (Jaga Hutan) sebagai upaya nyata menyelamatkan primata sekaligus memulihkan ekosistem hutan di Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Aksi ini lahir sebagai respons atas maraknya penebangan liar yang membuat habitat satwa terus menyusut.
Dalam kurun dua bulan terakhir, para relawan Jogo Alas telah menanam sekitar 700 pohon dari target 1.000 pohon kayu keras di kawasan hutan Ngampel dan Bah Klampok, Desa Selopuro, Kecamatan Batuwarno. Penanaman dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan daya dukung lingkungan dan kebutuhan satwa liar yang selama ini kehilangan ruang hidupnya.
Kerusakan hutan di wilayah tersebut berdampak langsung pada perilaku primata. Monyet yang kehilangan sumber pakan dan tempat berlindung terpaksa turun ke permukiman warga. Akibatnya, konflik manusia dan satwa tak terhindarkan: ladang rusak, tanaman pangan habis, bahkan rumah warga disatroni. Kondisi ini sempat menjadi sorotan media, termasuk laporan joglosemarnews.com pada 23 April 2025 yang menyebut gangguan monyet terjadi di 25 kecamatan di Wonogiri selama tiga tahun terakhir.
Pendiri Setiadharma Foundation, M.B. Setiadharma, menegaskan bahwa solusi atas konflik tersebut tak cukup dengan cara-cara instan. Menurutnya, pendekatan ekologis jangka panjang adalah kunci. Dengan mengembalikan fungsi hutan melalui penanaman pohon yang tepat, primata diharapkan kembali menemukan sumber makanan alami dan tidak lagi bergantung pada kawasan permukiman. Pernyataan ini ia sampaikan dalam keterangan resmi pada Kamis (5/2/2026).
Jenis pohon yang ditanam pun bukan pilihan sembarangan. Relawan memilih tanaman yang berperan penting bagi keseimbangan ekosistem sekaligus disukai primata. Di antaranya beringin sebagai tempat berteduh dan sumber buah, pule dan randu alas sebagai kayu keras bernilai ekologis, serta tanaman buah seperti asam, jambu mete, mangga, rambutan, dan gayam. Keanekaragaman ini diharapkan mampu memperkaya biodiversitas hutan Wonogiri.
Meski capaian awal sudah mendekati target, gerakan ini tidak berhenti pada penanaman semata. Perawatan rutin seperti penyiangan dan pemangkasan menjadi agenda berkelanjutan agar pohon tumbuh optimal dan benar-benar memberi manfaat ekologis dalam jangka panjang.