NDORO KAKUNG*: Tujuh Pelajaran Setelah Enam Puluh

Tujuh Pelajaran Setelah Enam Puluh
Sumber :
  • FB: ndorokakungwicaksono

Jakarta, WISATA – Ada masa ketika hidup begitu ramai hingga kita lupa mendengar suara kita sendiri.

Hari ini, lingkungan kita terasa seperti kota besar yang tak pernah tidur, penuh peristiwa, penuh pertengkaran, penuh ambisi.

Di televisi dan di situs berita, orang-orang sibuk berdebat tentang politik, mempersoalkan ijazah palsu, makanan bergizi, tepuk sakinah, siapa yang salah bicara, siapa yang harus dipersekusi.

Di media sosial, keramaian itu berlipat: komentar saling bertabrakan, kebenaran jadi kabur, dan empati sering kalah cepat dari sarkasme.

Kita hidup di masa ketika semua orang ingin didengar, tapi tak banyak yang mau mendengarkan.

Setiap peristiwa politik berubah jadi drama, setiap bencana jadi panggung, setiap perbedaan jadi bahan bakar untuk kemarahan baru.

Di tengah semua kebisingan itu, ada satu hal yang perlahan kita lupakan, hidup ini, ternyata tak serumit itu.

Ketika usia melewati enam puluh, semuanya tiba-tiba menjadi lebih jujur.

Dunia masih sama gaduhnya, tapi batin kita sudah tak lagi ingin ikut berteriak.

Yang kita cari bukan kemenangan, tapi keheningan.

Bukan sorak-sorai, tapi kelegaan.

img_title Dampak Pembatasan Konsumsi Gula di Awal Kehidupan terhadap Kesehatan Mental Masa Depan

Ndoro Kakung

Photo :
  • IG: @ndorokakung

Di situlah, aku merenungkan tujuh pelajaran hidup, dari perjalanan panjang, dari luka yang pernah ditertawakan waktu, dan dari kesadaran bahwa setiap napas kini adalah hadiah.
img_title Pesona Wisata Sejarah Trowulan Mojokerto yang Menyimpan Kejayaan Kerajaan Majapahit


img_title Keunikan Wisata Sejarah Gresik yang Menyimpan Pesona Warisan Budaya Nusantara
1. Setelah Enam Puluh, Hidup Menjadi Jujur Sekali

Di usia ini, kita berhenti pura-pura. Kita tak lagi berpura-pura bahagia, pura-pura kuat, pura-pura masih muda.

Tubuh berbicara lebih jujur daripada mulut. Sendi yang nyeri, mata yang mulai buram, napas yang cepat lelah. Semuanya mengingatkan bahwa kita hanya tamu di dunia ini.

Tapi anehnya, justru dari kejujuran itu datang ketenangan.

Kita tak lagi menipu diri dengan ambisi kosong.

Kita tak lagi menunda bahagia hanya karena dunia berkata “belum cukup.”

Kita mulai menerima bahwa hidup tak harus sempurna untuk bisa disyukuri.

Dan di titik itu, kejujuran jadi doa yang paling lembut, aku hidup seadanya, tapi dengan sepenuhnya.

2. Bukan Lagi Tentang Mengejar, Tapi Memilih

Dulu, hidup seperti lomba lari. Makin cepat, makin dianggap berhasil.
Halaman Selanjutnya
img_title