Menikah ala Socrates: Bahagia atau Bijak, Sama-Sama Untung

Socrates
Sumber :
  • Image Creator Grok/Handoko

Socrates, filsuf besar Yunani kuno, ternyata punya pandangan unik soal pernikahan. Ucapannya yang terkenal—“Menikahlah. Kalau mendapatkan istri yang baik, kamu akan bahagia. Kalau tidak, kamu akan menjadi bijak”—masih relevan hingga era modern. Di tengah meningkatnya angka perceraian dan kompleksitas hubungan, nasihat Socrates tentang pernikahan, kebahagiaan, dan kebijaksanaan tetap menjadi cermin bagi generasi muda

img_title Etika Penerbangan Wisatawan saat Harus Keluar Kursi Pesawat

Yogyakarta, WISATA - Di sebuah kafe kecil di Yogyakarta, seorang penulis muda bernama Lintang menatap layar laptopnya dengan wajah cemberut. Ia baru saja membaca kutipan Socrates yang sering berseliweran di media sosial: “Menikahlah. Kalau mendapatkan istri yang baik, kamu akan bahagia. Kalau tidak, kamu akan menjadi bijak.”

Lintang terkekeh lirih. “Jadi, apapun hasilnya saya tetap dapat hadiah? Entah itu bahagia atau kebijaksanaan?” gumamnya. Kutipan itu terdengar sederhana, tapi semakin dipikir, semakin terasa satirnya.

img_title Kampung Pancasila Depok Jadi Ruang Kreatif Generasi Muda Sambut HUT RI ke-81

Kata-kata Socrates yang hidup pada abad ke-5 SM itu memang punya kekuatan ajaib: ia terdengar seperti lelucon, namun menyimpan filsafat mendalam. Socrates bukan hanya berbicara tentang cinta, melainkan tentang seni bertahan hidup.

Pernikahan Menurut Sang Filsuf

img_title Dunia Sophie, Novel Filsafat Jostein Gaarder yang Ternyata Menipu Pembacanya Sendiri

Bagi Socrates, pernikahan adalah ruang belajar, bukan sekadar rumah tangga. Ia tahu bahwa manusia akan selalu diuji—entah dengan tawa kebahagiaan atau dengan konflik sehari-hari yang melelahkan. Dalam logika Socrates, pernikahan tidak pernah sia-sia. Jika kita beruntung, kita bahagia. Jika tidak, kita belajar kesabaran dan kebijaksanaan.

Aristoteles, murid Plato (dan Plato sendiri murid Socrates), pernah menulis bahwa manusia adalah zoon politikon—makhluk sosial yang butuh hidup bersama. Pernikahan, dalam kacamata itu, adalah laboratorium kecil tempat manusia belajar seni hidup berdampingan.

Lintang teringat sahabatnya yang baru menikah. Seminggu pertama penuh unggahan Instagram mesra, tapi bulan berikutnya sudah mulai curhat tentang piring kotor dan rebutan remote TV. “Jadi benar juga kata Socrates,” pikir Lintang. “Bahagia itu hadiah, tapi kalau tidak, setidaknya kita belajar menahan emosi.”

Relevansi di Era Digital

Meski lahir lebih dari dua ribu tahun lalu, pandangan Socrates terasa relevan di era digital. Angka perceraian meningkat, hubungan jarak jauh diuji video call yang sering putus, sementara generasi muda dicekam ketakutan akan kehilangan kebebasan jika menikah.

Halaman Selanjutnya
img_title