Kolaborasi Riset ASEAN-Jepang Diperkuat Lewat Program NEXUS dan Wartec

Toshihide Fukui
Sumber :
  • brin.go.id

Jakarta, WISATA – Pentingnya kolaborasi riset antara Jepang dan negara-negara ASEAN telah disoroti oleh Toshihide Fukui, Deputy Director-General Science and Technology, Ministry of Education, Cultural, Sports, Science and Technology, Japan. Kedekatan hubungan yang telah terjalin selama lebih dari 50 tahun telah dijadikan landasan penguatan kerja sama tersebut.

img_title Mengungkap Sisi Lain Nimrud: Menelusuri Kehidupan Rakyat Biasa Ibu Kota Mesopotamia Kuno

Untuk mendukung kerja sama riset dan pengembangan SDM, program Networking Exchange United to Serve (NEXUS) telah dibentuk sejak tahun 2023 oleh Pemerintah Jepang. Dana sebesar USD 100 juta atau sekitar Rp 1,6 triliun telah dialokasikan guna mendukung riset kolaboratif, pertukaran talenta, dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia di kawasan ASEAN.

Dalam Konferensi The 9th Science and Technology in Society (STS) Forum ASEAN-Japan yang telah diselenggarakan oleh BRIN di Jakarta, disampaikan pula bahwa dana universitas sebesar USD 23 juta akan digunakan selama tiga tahun untuk mendukung fasilitas riset bersama. Akses terhadap pusat riset unggulan seperti Spring-8 dan J-PARC juga telah dibuka bagi ilmuwan ASEAN.

img_title Terbang Mewah dengan Jet Pribadi Murah: Rahasia dan Cara Kerja Penerbangan Empty Leg

Kolaborasi internasional dalam bidang sains dan teknologi telah ditegaskan sebagai kebutuhan mendesak di tengah krisis global yang kompleks. Kekayaan pengetahuan dan kekuatan bersama perlu dioptimalkan untuk menciptakan inovasi dan membangun kepercayaan antar negara.

Atsushi Arakawa dari Japan Science and Technology Agency (JST) juga telah menjelaskan rincian NEXUS yang menjadi bagian dari peringatan 50 tahun hubungan Jepang-ASEAN. Beberapa proyek strategis telah dijalankan, seperti teknologi hijau dengan Thailand dan Malaysia, semikonduktor dengan Vietnam, hingga produksi pangan dengan Indonesia.

img_title Mengenal Songthaew: Transportasi Khas Thailand yang Ramah Kantong dan Penuh Cerita

Mobilitas peneliti telah didorong melalui program Sakura Science dan Wartec. Ribuan pelajar dan peneliti ASEAN telah difasilitasi untuk belajar di Jepang. Kini, peneliti Jepang pun telah diarahkan untuk berkolaborasi di Asia Tenggara. Wartec bahkan telah dikembangkan untuk mendukung pertukaran peneliti jangka panjang dua arah.

Dalam diskusi yang dimoderatori oleh R. Arthur Ario Lelono dari BRIN, penguatan ekosistem riset regional telah ditegaskan harus berbasis kolaborasi, inklusif, dan menjawab tantangan nyata masyarakat. Pendanaan dan mobilitas peneliti telah ditekankan sebagai fondasi utama inovasi berkelanjutan.

Halaman Selanjutnya
img_title