UNDIP Serahkan Lima Unit Pengolah Air Tanggap Bencana ke BNPB untuk Jawa Tengah
- UNDIP.ac.id
Semarang, WISATA — Universitas Diponegoro (UNDIP) menegaskan komitmennya dalam mendukung penanganan bencana melalui pemanfaatan riset dan inovasi yang berdampak langsung bagi masyarakat. Komitmen tersebut diwujudkan lewat penyerahan lima Unit Pengolahan Air Tanggap Bencana kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di halaman Widya Puraya, UNDIP, pada Selasa, 1 September 2026.
Hasil Riset yang Dirintis Sejak Delapan Tahun Lalu
Lima unit pengolahan air tanggap bencana tersebut merupakan hasil pengembangan Prof. Dr. I Nyoman Widiasa, S.T., M.T., guru besar Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik UNDIP, bersama timnya. Menariknya, teknologi ini bukan inovasi dadakan, melainkan hasil riset panjang yang telah dirintis sejak sekitar delapan tahun silam. Penyerahan resmi kali ini menjadi tindak lanjut dari ketertarikan BNPB terhadap teknologi pengolahan air buatan UNDIP, setelah lembaga tersebut melakukan kunjungan kerja langsung ke kampus pada 2025 dan menyaksikan sendiri perkembangan riset yang dilakukan Prof. Nyoman dan tim.
Komitmen Menghilirkan Riset demi Kemanusiaan
Rektor UNDIP, Prof. Dr. Suharnomo, S.E., M.Si., menegaskan komitmen UNDIP untuk memastikan hasil riset dan inovasi dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, khususnya dalam situasi kebencanaan. Menurutnya, pada prinsipnya UNDIP sangat berkomitmen mendarmabaktikan hasil riset dan inovasi agar bermanfaat bagi masyarakat, dan penyerahan Unit Pengolahan Air Tanggap Bencana ini menjadi salah satu wujud nyata dari komitmen tersebut. Ia turut menegaskan bahwa pemanfaatan teknologi hasil penelitian untuk kepentingan masyarakat merupakan bagian dari tanggung jawab perguruan tinggi, bukan sekadar pencapaian akademik semata.
Kapasitas Pengolahan hingga 20 Ribu Liter per Hari
Unit Pengolahan Air Tanggap Bencana atau mobile water treatment ini mampu mengolah air hingga menjadi air bersih sekaligus air yang siap dikonsumsi langsung. Setiap unit memiliki kapasitas pengolahan sekitar 20 ribu liter air bersih dan dua ribu liter air minum per hari, kapasitas yang cukup signifikan untuk mendukung kebutuhan darurat masyarakat terdampak bencana dalam skala menengah hingga besar. Kemampuan ini menjadikan teknologi tersebut berpotensi besar sebagai solusi penyediaan air ketika bencana mengganggu sumber air maupun infrastruktur distribusi yang biasa digunakan warga sehari-hari.