Apakah Socrates Akan Dianggap Gila di Zaman Sekarang?
- Image Creator/Handoko
Malang, WISATA- Bayangkan seorang pria tua berkaki ayam berjalan di tengah kota, menghentikan orang asing hanya untuk bertanya, “Apa itu keadilan? Apakah kamu benar-benar bahagia? Apa tujuan hidupmu?” Ia tidak menawarkan solusi, tidak menjual apa pun, dan tidak meminta imbalan. Di zaman sekarang, mungkin orang akan memalingkan wajah, bahkan menganggapnya eksentrik—atau gila.
Namun, pria itu bukan orang sembarangan. Ia adalah Socrates, salah satu tokoh terpenting dalam sejarah filsafat dunia. Di zaman Athena kuno, ia sudah menjadi sosok yang mengganggu tatanan pemikiran masyarakat, mempertanyakan segalanya, bahkan sampai dihukum mati karena keberaniannya bertanya. Tapi jika Socrates hidup hari ini, di tengah dunia modern yang dipenuhi media sosial, kebisingan informasi, dan kepentingan pribadi, apakah ia akan diterima… atau justru dimasukkan ke rumah sakit jiwa?
Gaya Socrates yang Mengganggu Kenyamanan
Socrates tidak menyampaikan ceramah atau khotbah. Ia tidak mengklaim dirinya sebagai orang paling bijak. Justru sebaliknya, ia berkata, “Satu-satunya kebijaksanaan sejati adalah mengetahui bahwa kamu tidak tahu apa-apa.” Prinsip inilah yang membuatnya terus bertanya, menggali jawaban, dan menantang asumsi yang selama ini diterima begitu saja.
Di zaman modern, pendekatan seperti itu bisa dianggap tidak sopan. Socrates tidak pernah puas dengan jawaban “karena memang begitu,” atau “karena semua orang melakukannya.” Ia ingin orang berpikir, bukan hanya ikut arus. Jika Anda pernah bertemu seseorang yang terus-menerus mempertanyakan segalanya, Anda mungkin merasa terganggu atau bahkan jengkel. Tapi di situlah kekuatan Socrates.
Apakah Dunia Modern Siap dengan Orang Seperti Socrates?
Dunia kini sangat cepat berubah. Media sosial mengharuskan kita merespons dalam hitungan detik, bukan menit apalagi jam. Orang berlomba-lomba menjadi yang tercepat memberi opini, bahkan ketika pemahaman mereka belum utuh. Dalam dunia seperti ini, orang yang lambat, mendalam, dan suka bertanya bisa dianggap aneh—bahkan dicurigai.
Socrates mungkin tidak akan viral di TikTok. Ia tidak akan jadi bintang Instagram. Ia mungkin akan menjadi akun kecil di X (dulu Twitter) yang hanya dipenuhi tanya-jawab filosofis, diikuti segelintir orang yang tertarik berpikir kritis.