Marcus Aurelius dan Seni Mengendalikan Emosi dalam Hidup

Marcus Aurelius Tokoh Stoic
Sumber :
  • Traderu

Marcus menunjukkan bahwa kemarahan terhadap hal-hal di luar kendali hanya membuang energi dan memperburuk keadaan. Sebaliknya, fokus pada reaksi dan tindakan kita adalah kunci menuju ketenangan.

img_title Decluttering untuk Mengurangi Beban Mental: Rahasia Rumah Rapi Tanpa Stres Berlebih

4.     Jadilah Orang yang Sulit Tersulut

Marcus Aurelius menulis:

img_title Inilah Posisi Wellness Tourism dalam Pencegahan Penyakit Secara Proaktif

“Be tolerant with others and strict with yourself.”

(Bersikaplah toleran terhadap orang lain dan keras pada dirimu sendiri.)

img_title Kontinuum Kesehatan: Posisi Wellness Tourism dalam Pencegahan Penyakit Secara Proaktif

Salah satu penyebab utama emosi meledak adalah ekspektasi yang tidak realistis terhadap orang lain. Kita berharap mereka bertindak sesuai keinginan kita. Ketika itu tidak terjadi, kita frustrasi. Stoikisme mengajarkan kita untuk mengubah fokus ke dalam: membenahi sikap dan respon kita sendiri, bukan mencoba mengubah dunia.

5.     Marah Itu Manusiawi, Tapi Mengendalikannya Itu Bijak

Stoikisme bukan berarti menjadi robot yang tidak merasakan apapun. Marcus Aurelius pun pernah merasa marah, kecewa, dan sedih. Tapi ia melatih diri untuk tidak larut dalam emosi tersebut. Dalam catatannya, ia menuliskan:

“How much more harmful are the consequences of anger than the circumstances that aroused them.”

(Betapa lebih berbahayanya akibat dari kemarahan dibandingkan situasi yang menyebabkannya.)

Kemarahan bisa membuat kita mengambil keputusan buruk, melukai orang lain, dan menyesal di kemudian hari. Maka, mengendalikan emosi adalah bentuk perlindungan diri dan orang lain.

6.     Jeda Sebelum Bereaksi

Salah satu praktik Stoik yang diajarkan Marcus adalah mengambil jeda sebelum merespons sesuatu, terutama saat emosi tinggi. Dalam jeda itu, kita punya kesempatan untuk berpikir: Apakah ini hal yang penting? Apakah ini layak membuatku marah? Apakah aku akan menyesalinya nanti?

Dengan jeda sejenak, kita memberi ruang bagi akal sehat untuk mengambil alih.

7.     Latihan Harian: Meditasi ala Marcus

Marcus Aurelius biasa memulai hari dengan refleksi: membayangkan bahwa ia akan bertemu orang bodoh, pemarah, atau tidak tahu diri. Bagi Marcus, persiapan mental seperti ini membuatnya lebih tahan terhadap frustrasi.

Dalam Meditations, ia menulis:

“Begin each day by telling yourself: today I shall be meeting with interference, ingratitude, insolence, disloyalty, ill-will, and selfishness…”

Ini bukan pesimisme, melainkan persiapan mental agar kita tidak kaget atau marah ketika hal itu terjadi. Kita jadi lebih siap secara emosional untuk menghadapi dunia nyata.

Halaman Selanjutnya
img_title