Seneca: Lebih Bijak Menertawakan Hidup daripada Meratapinya
- Cuplikan layar
Jakarta, WISATA — Dalam menghadapi kenyataan hidup yang penuh tantangan, penderitaan, dan kejutan yang tak terduga, kebanyakan orang memilih untuk mengeluh atau meratapi nasib. Namun, filsuf Stoik asal Romawi, Lucius Annaeus Seneca, memberikan pandangan berbeda yang menggugah pikiran: “It is more civilized to make fun of life than to bewail it.”
Ungkapan ini dapat diterjemahkan sebagai: “Lebih beradab untuk menertawakan hidup daripada meratapinya.” Seneca mengajarkan bahwa dalam menghadapi lika-liku kehidupan, sikap yang penuh humor dan penerimaan lebih mencerminkan kematangan jiwa daripada tangisan yang tak berujung.
Hidup Tak Pernah Sempurna, Tapi Bisa Ditertawakan
Seneca tidak bermaksud menyuruh kita mengabaikan penderitaan atau bersikap sinis terhadap kesulitan. Sebaliknya, ia mengajak kita untuk bersikap ringan terhadap hidup. Hidup penuh ketidaksempurnaan: kita gagal, kita ditolak, kita kehilangan. Tapi justru di situlah letak kemanusiaan kita.
Daripada meratap, mengapa tidak menertawakannya? Tawa tidak membuat masalah hilang, tapi membuat kita lebih kuat dalam menjalaninya. Dalam filsafat Stoik, humor adalah bentuk tertinggi dari penerimaan. Saat kita bisa menertawakan hidup, itu tandanya kita tidak lagi diperbudak oleh emosi negatif.
Peradaban dan Cara Menghadapi Hidup
Seneca menilai bahwa salah satu tanda peradaban adalah kemampuan manusia untuk menghadapi kesulitan dengan kepala tegak—bukan dengan ratapan, tapi dengan senyuman. Bangsa yang besar bukan hanya karena teknologinya, tapi karena warganya mampu bersikap tenang, bahkan saat badai menerpa.
Lihatlah sejarah: banyak tokoh besar seperti Abraham Lincoln, Mahatma Gandhi, atau Nelson Mandela yang menghadapi penderitaan luar biasa. Tapi mereka tidak meratap—mereka memilih untuk tetap bersikap tenang, bahkan terkadang dengan selera humor yang tinggi. Itulah bentuk kematangan dan kemanusiaan sejati.
Menertawakan Hidup Bukan Berarti Meremehkan
Banyak orang salah paham. Mereka menganggap bahwa menertawakan hidup berarti tidak serius atau mengabaikan tanggung jawab. Padahal, justru orang yang bisa menertawakan hidup biasanya sudah lebih memahami realitas. Mereka tahu bahwa tidak semua bisa dikendalikan. Maka daripada frustrasi, lebih baik tersenyum dan terus berjalan.