Epictetus: Jangan Gantungkan Hidup pada Satu Harapan
- Cuplikan layar
Jakarta, WISATA — Dalam lanskap kehidupan yang penuh ketidakpastian, filsuf Stoik Epictetus kembali menghadirkan kebijaksanaan yang tak lekang oleh waktu. Salah satu kutipan terkenalnya berbunyi:
“Neither should a ship rely on one small anchor, nor should life rest on a single hope.”
“Sebuah kapal tidak seharusnya bergantung pada satu jangkar kecil, begitu pula hidup tidak boleh bergantung pada satu harapan saja.”
Kata-kata ini menjadi pengingat tajam bagi manusia modern yang sering kali menaruh seluruh harapan hidupnya pada satu aspek—entah itu pekerjaan, relasi, atau ambisi tertentu. Epictetus mengajak kita untuk membangun fondasi hidup yang kuat dengan lebih dari satu penopang, karena kehidupan yang hanya bergantung pada satu hal akan rentan goyah saat ujian datang.
Pelajaran Penting dari Dunia Maritim
Dalam perumpamaannya, Epictetus menggunakan analogi kapal yang bersandar pada satu jangkar kecil. Dalam dunia pelayaran, ini merupakan kesalahan fatal. Kapal memerlukan lebih dari satu jangkar agar tetap stabil ketika badai menerpa. Begitu juga dalam hidup, kita perlu menyiapkan beberapa pijakan agar tidak tumbang ketika salah satunya lepas.
“Ketika kita menaruh seluruh harapan pada satu hal, dan itu gagal, maka kita bisa kehilangan arah hidup,” kata Prof. Arman Widjaja, pakar filsafat klasik dari Universitas Indonesia. “Epictetus mengajarkan kita untuk memiliki diversifikasi harapan, tujuan, dan makna hidup.”
Realitas Kehidupan: Tak Semua Berjalan Sesuai Rencana
Kenyataan menunjukkan bahwa hidup tidak selalu berjalan seperti yang kita harapkan. Pekerjaan impian bisa hilang karena krisis ekonomi. Hubungan bisa berakhir karena ketidaksesuaian. Cita-cita bisa gagal karena banyak faktor eksternal. Jika seluruh kebahagiaan kita bergantung hanya pada satu elemen tersebut, maka kita akan jatuh dalam keputusasaan ketika itu hilang.
Itulah sebabnya mengapa pesan Epictetus sangat penting: kita perlu membangun sistem pendukung dalam hidup. Tak hanya dari segi materi atau profesi, tapi juga dari aspek emosional, spiritual, dan sosial.
Keseimbangan Harapan dan Realitas
Kutipan Epictetus juga mengajarkan tentang pentingnya keseimbangan antara harapan dan realitas. Bukan berarti kita tidak boleh berharap, tapi harapan itu sebaiknya tidak tunggal. Kita perlu menanamkan harapan pada berbagai aspek kehidupan—keluarga, persahabatan, pengembangan diri, kontribusi sosial, hingga nilai-nilai spiritual.