Seneca: Jika Ingin Dicintai, Cintailah
- Cuplikan layar
Jakarta, WISATA — “Jika ingin dicintai, cintailah.” Kutipan singkat dari filsuf Stoik Romawi kuno, Lucius Annaeus Seneca, kembali menjadi sorotan publik di tengah meningkatnya perbincangan soal krisis empati, kehampaan relasi sosial, serta meningkatnya individualisme di masyarakat modern.
Dalam dunia yang semakin terhubung secara digital namun terasa kian renggang secara emosional, pernyataan Seneca “If you wish to be loved, love” atau “Jika ingin dicintai, cintailah” menjadi seruan moral yang mengajak manusia untuk kembali kepada esensi dari relasi antarmanusia: cinta yang aktif, bukan pasif.
Cinta Bukan Sekadar Perasaan, Tapi Tindakan
Seneca menekankan bahwa cinta bukanlah sesuatu yang hanya ditunggu atau diharapkan datang begitu saja. Cinta, dalam pandangannya, adalah sesuatu yang harus dipraktikkan. Dengan mencintai terlebih dahulu, seseorang membuka jalan bagi cinta untuk kembali kepadanya.
“Ini adalah filosofi yang sangat relevan di zaman sekarang. Banyak orang merasa kesepian dan tidak dicintai, padahal mereka sendiri belum mencoba untuk memberi cinta,” jelas Dr. Lina Setiadi, psikolog sosial dari Universitas Airlangga.
Ia menambahkan bahwa banyak relasi modern, baik dalam pertemanan, percintaan, maupun keluarga, dilandasi oleh ekspektasi untuk diterima dan dicintai, tetapi tidak diawali dengan keinginan untuk memberi. “Padahal cinta itu seperti tanaman. Ia tumbuh bukan hanya dengan harapan, tapi dengan perawatan, perhatian, dan ketulusan.”
Krisis Empati di Masyarakat Modern
Data dari survei yang dilakukan oleh lembaga riset global Gallup menunjukkan bahwa tingkat kesepian di kalangan masyarakat perkotaan meningkat hingga 25% dalam dua dekade terakhir. Salah satu penyebab utamanya adalah menurunnya interaksi emosional yang mendalam di era serba cepat dan serba digital ini.
“Manusia makin sibuk dengan gawai, dengan pencitraan di media sosial, dan lupa bagaimana cara membangun relasi yang tulus. Dalam situasi seperti ini, ajakan Seneca untuk mencintai terlebih dahulu menjadi sangat penting,” kata Nenden Hapsari, aktivis komunitas solidaritas sosial di Jakarta.
Menurutnya, masyarakat kita butuh kembali menghidupkan budaya empati, gotong royong, dan kepedulian yang nyata. “Jangan hanya menunggu bantuan, mulailah membantu. Jangan hanya berharap dimengerti, mulailah memahami. Dari situlah cinta akan kembali,” ujarnya.
Relevansi untuk Generasi Muda
Generasi muda saat ini tumbuh dalam iklim yang penuh tekanan sosial, kompetisi, dan kecenderungan untuk mencari validasi dari luar. Banyak di antara mereka merasa tidak cukup dicintai atau dihargai, meskipun memiliki banyak teman dan pengikut di media sosial.
“Seneca mengajarkan bahwa cinta bukanlah hasil, tetapi proses. Generasi muda perlu menyadari bahwa mereka tidak bisa sekadar menuntut cinta dan perhatian dari orang lain tanpa terlebih dahulu memberikan itu semua,” ujar Faisal Ardhi, pembina komunitas pemuda di Bandung.
Ia mencontohkan program mentoring yang dilakukannya setiap minggu, di mana anak muda belajar tentang komunikasi asertif, empati, dan cara menunjukkan kasih sayang dengan tindakan konkret.
“Setiap kali mereka belajar memberi perhatian tulus kepada orang lain—baik dengan mendengarkan, membantu, atau sekadar hadir—mereka juga menerima kembali cinta dalam bentuk yang tidak terduga.”
Cinta di Lingkungan Kerja dan Sosial
Pernyataan Seneca tidak hanya berlaku dalam relasi personal, tetapi juga dalam kehidupan profesional dan sosial. Di dunia kerja yang kompetitif dan kadang kaku, banyak organisasi mulai menerapkan pendekatan berbasis empati, seperti kepemimpinan inklusif, ruang ekspresi emosional, dan dukungan kesehatan mental.
“Budaya saling peduli menciptakan tempat kerja yang lebih sehat. Ketika atasan menunjukkan cinta dalam bentuk perhatian dan pengakuan, karyawan pun bekerja dengan hati,” ujar Rani Sujatmiko, konsultan SDM dari Jakarta.
Rani mengungkapkan bahwa perusahaan-perusahaan besar seperti Google dan Tokopedia telah membuktikan bahwa budaya empati dan kasih sayang dapat meningkatkan produktivitas serta loyalitas pegawai.
Cinta Membuka Jalan untuk Kedamaian Sosial
Lebih dari sekadar relasi antarpribadi, cinta juga berperan dalam menciptakan harmoni sosial. Negara yang masyarakatnya dipenuhi oleh kasih sayang dan pengertian cenderung lebih damai, stabil, dan toleran.
“Jika kita ingin dicintai sebagai bangsa, kita harus belajar mencintai satu sama lain. Menerima perbedaan, membantu yang lemah, dan memberi ruang kepada semua lapisan masyarakat,” ujar Prof. Drajat Haryono, dosen filsafat dari Universitas Indonesia.
Ia mengutip Seneca sebagai simbol penting dari semangat untuk memulai perubahan dari diri sendiri. “Cinta yang besar lahir dari tindakan kecil. Dari sapaan, dari senyum, dari saling mendengarkan. Jika itu dilakukan terus menerus, akan menciptakan gelombang sosial yang kuat.”
Penutup: Mulailah Mencintai Hari Ini
Kutipan Seneca mengajarkan bahwa cinta bukanlah transaksi, tetapi tindakan tanpa syarat. Cinta bukan soal menerima duluan, melainkan tentang memberi tanpa pamrih. Dalam dunia yang sering kali terasa penuh jarak dan persaingan, pesan ini layak dihidupkan kembali.
“Kita sering bertanya, mengapa dunia ini terasa dingin? Mungkin karena kita semua menunggu untuk dicintai, tapi lupa untuk mencintai,” kata Nenden, mengakhiri wawancaranya.
Dalam setiap langkah, dalam setiap kata, dan dalam setiap keputusan, kita bisa memilih untuk mencintai lebih dulu. Karena seperti yang dikatakan Seneca ribuan tahun lalu, jika ingin dicintai, cintailah.