CERPEN: "Ketika Kereta Lewat" - Bab 7, Lapar yang Tak Terucap

CERPEN: "Ketika Kereta Lewat" - Bab 7, Lapar yang Tak Terucap
Sumber :
  • Suwanto Rusdi

Jakarta, WISATA – Musim kering datang tanpa ampun.

Tanah di bantaran rel mengeras, retak-retak seperti kulit yang lupa disentuh air. 

Kue-kue Bu Inah semakin sering tak laku.
 
Orang-orang menahan belanja mereka memilih berhemat untuk diri mereka sendiri. 

Di gubuk kecil itu, lapar tidak lagi datang sebagai tamu, tapi ia menetap.

Bu Inah tetap bangun sebelum subuh. 

Rambutnya disanggul rapi, wajahnya dibasuh air dingin. 

Di balik kelelahan, kecantikannya masih tersisa, bukan kecantikan yang berteriak, melainkan yang diam dan bersih. 

Tubuhnya ramping, geraknya tenang. 

Usia belum sepenuhnya mengambil apa yang dulu pernah dimilikinya. 

Bayu sering melihat ibunya dari kejauhan dan bertanya-tanya bagaimana seseorang bisa tetap lembut setelah hidup mengikisnya begitu lama.

Pagi itu, adonan kue lebih sedikit dari biasanya. 

Bu Inah menghitung bahan berulang kali, lalu menghela napas. 

Bayu memperhatikan tanpa bicara. 

Ia tahu, hari ini mungkin mereka hanya makan sekali.

Bayu berangkat sekolah dengan perut kosong. 

Di kelas, papan tulis terasa jauh. 

Kata-kata guru berputar-putar, menabrak kepala yang ringan. 

Tangannya gemetar saat menulis.

Ketika bel istirahat berbunyi, ia tetap duduk. 

Botol airnya kosong.

“Yu, kamu nggak jajan?” tanya Dahlia, gadis cantik dan ayu, yang selalu perhatian sama Bayu.

Bayu menggeleng, tersenyum tipis. 

Senyum yang sudah ia latih untuk menutup rasa.

Sore itu, Bayu pulang lebih cepat. 

Di depan gubuk, seorang laki-laki berdiri, posturnya besar, suaranya keras. 

Ia paman Bayu, abang ipar Bu Inah. 

Orang yang datang tak tentu waktu, membawa kabar yang tak pernah benar-benar baik.

“Na,” katanya sambil bersandar ke tiang gubuk, matanya menyapu. “Masih saja kamu begini. Sendiri, capek sendiri loh.”

Bu Inah menegakkan badan. “Ada perlu apa?”

Paman Bayu tersenyum miring.

“Aku cuma khawatir. Kamu itu… masih kelihatan ayu, tahu? Sayang kalau hidupmu begini terus.” 

Tatapannya terlalu lama, terlalu dekat. 

“Kalau kamu mau, aku bisa bantu. Kamu nggak perlu banting tulang tiap hari.”

Bayu berhenti di beberapa langkah dari pintu. 

Dadanya mengeras. 

Ia menangkap nada itu, nada yang membuat udara menjadi tidak aman.

Bu Inah mundur setengah langkah. 

Suaranya dingin. 

“Bantuan macam apa?”

Paman Bayu tertawa kecil. 

“Kamu tahu maksudku.” 

Ia mendekat. 

“Kita keluarga.”

“Justru karena keluarga,” potong Bu Inah, tegas. 

“Jangan bicara sembarangan.”

Bayu melangkah maju. 

Tangannya mengepal. 

“Paman pulang saja.”

Paman Bayu menoleh, menatap Bayu dari atas ke bawah. 

“Anak kecil jangan ikut campur urusan orang dewasa.”

“Nanti paman aku laporkan ke bapak". 

Tiba tiba rasa keberanian Bayu muncul.

“Bapak siapa..? Bapakmu sudah mati tenggelam di telan ikan pari.”

Deg…dada inah bergejolak marah. 

"Jangan sembarangan ngomong bang. Bang rosadi masih hidup. Baru saja dia pulang menemui kami,” nada sinis Inah menggema.

Rahmat tertawa sinis. 

“Kalian pasti sedang didatangi arwah rosadi. Jadi jangan harap rosadi masih hidup. Dia sudah mati…Karena….”. 

Rahmat tidak melanjutkan ucapanya.

Bayu mendorong tubuh rahmat hingga terhuyung.

Bu Inah berdiri di depan Bayu, tubuhnya menjadi dinding. 

“Pergi,” katanya pelan, tapi tidak memberi ruang untuk tawar-menawar.

Ada hening sesaat hening yang berbahaya. 

Lalu paman Bayu mendecih, berbalik. 

“Keras kepala,” gumamnya. 

“Jangan menyesal.”

Ia pergi dengan langkah berat. 

Bau rokoknya tertinggal.

Bu Inah menutup pintu. 

Tangannya gemetar. 

Ia duduk, menarik napas panjang, panjang sekali, seolah menahan sesuatu yang ingin runtuh. 

Bayu berdiri kaku, tak tahu harus berkata apa. 

Ada marah, ada takut, ada malu yang tidak ia mengerti asalnya.

“Ibu nggak apa-apa,” kata Bu Inah akhirnya, tanpa menatap. 

“Kamu lapar?”

Bayu mengangguk. 

Air mata menggenang, tetapi ia menahannya. 

Mereka makan seadanya nasi tipis, kuah bening. 

Setiap suapan terasa berat.

Malam turun. Lampu tempel dinyalakan. 

Bayu membuka buku, tetapi huruf-huruf menolak diam. 

Ia memikirkan ibunya sendiri, lelah, harus menjaga diri di dunia yang tidak ramah. |

Ia memikirkan paman itu, tatapan yang membuat dadanya panas.

Kereta lewat. 

Getarannya mengguncang gubuk. 

Bayu menangkup lampu, tetapi kali ini tangannya bergetar bukan karena angin.

“Bu,” katanya pelan. 

“Aku mau berhenti sekolah.”

Bu Inah menoleh cepat. 

“Apa?”

“Aku bisa kerja,” lanjut Bayu, suaranya bergetar. 

“Biar ibu nggak capek. Biar…..” 

Ia berhenti, menelan kata-kata yang terlalu berat.

Bu Inah mendekat, berlutut di depan Bayu. 

Matanya basah, tetapi tegas. 

“Tidak. Kamu dengar ibu. Tidak.”

“Tapi kita…..”

“Lapar itu bisa ditahan,” potong Bu Inah, suaranya rendah. 

“Takut itu bisa dilewati. Tapi bodoh …?” ia berhenti sejenak, mengatur napas.

“….Bodoh itu menempel seumur hidup.”

Ia menggenggam wajah Bayu. 

“Ibu akan jaga diri ibu. Kamu jaga masa depan kamu.”

Bayu terisak. Di dadanya, lapar bercampur marah dan tekad. 

Ia mengangguk, meski air mata jatuh satu-satu.

Malam itu, Bayu belajar lebih lama. 

Bukan karena pelajaran, melainkan karena takut kehilangan satu-satunya alasan ibunya bertahan. 

Di luar, kereta lewat lagi sangat keras, tak peduli.

Dan di dalam gubuk, seorang anak memutuskan untuk tetap berjalan, meski perutnya kosong, meski dunia mencoba menawarnya dengan jalan pintas yang kotor.

(Bersambung...)

img_title Mengapa Kondisi Paspor Sangat Menentukan Kelancaran Liburan Anda ke Luar Negeri