Desa Wisata Bugisan Klaten, Kampung Toleransi di Bawah Bayangan Candi Kembar

Desa Wisata Bugisan
Sumber :
  • Indonesia.travel

Klaten, WISATA - Sobat Wisata Viva, di wilayah Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, tepat di perbatasan dengan Daerah Istimewa Yogyakarta, tersimpan sebuah desa yang menyatukan kekayaan sejarah, budaya, dan alam dalam satu kawasan yang asri. Desa Bugisan namanya, sebuah desa yang menyimpan peninggalan sejarah berupa bangunan candi termasyhur bernama Candi Plaosan. Bangunan candi ini menjadi simbol budaya yang pada zamannya dianggap tempat sakral bagi para raja beserta pengikutnya, dan nilai-nilai sejarah yang terkandung di relief candinya banyak menggambarkan budaya masyarakat sekitar hingga hari ini.

img_title Desa Wisata Bihe Gorontalo, River Tubing Ekstrem di Gerbang Tahura BJ Habibie

Jejak Prajurit Bogis di Balik Nama Desa

Menurut cerita yang dipercaya masyarakat setempat, nama "Bugisan" berasal dari kata Bogis, merujuk pada Prajurit Bogis, yakni prajurit Keraton Kasunanan Surakarta yang pada masa lampau ditugaskan menjaga keamanan di kawasan perbatasan antara Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta. Lokasi strategis inilah yang menjadikan Bugisan memiliki nilai historis tersendiri sejak era kerajaan, jauh sebelum berkembang menjadi desa wisata seperti yang dikenal saat ini. Lokasinya berjarak sekitar 13 kilometer dari Kantor Pemerintah Kabupaten Klaten, bisa ditempuh kurang lebih 20 menit menggunakan kendaraan pribadi.

img_title Desa Wisata Selasari Pangandaran, Juara 4 ADWI dengan Body Rafting dan Seni Lebon

Candi Plaosan, Anugerah Terbesar Bugisan

Candi Plaosan atau yang akrab disebut Candi Kembar merupakan anugerah terbesar yang dimiliki Desa Bugisan, menggambarkan berbagai aspek kehidupan mulai dari toleransi, alam, budaya, hingga keagamaan. Candi Buddha ini diperkirakan mulai dibangun pada abad ke-9 dengan sebutan awal Jina Mandira, dan pembangunannya terus berlanjut hingga pertengahan abad tersebut. Puncak pembangunan candi ini diprakarsai oleh Sri Maharaja Rakai Pikatan yang beragama Hindu, bersama permaisurinya, Sri Kahulunnan atau Pramodhawardhani, yang beragama Buddha. Perpaduan latar belakang keyakinan dua tokoh penting inilah yang menjadikan Candi Plaosan sebagai bukti nyata harmoni antarumat beragama sejak masa Kerajaan Mataram Kuno, sebuah warisan toleransi yang kini menjadi identitas utama Desa Bugisan.

img_title Desa Wisata Sangiran, Jejak Manusia Purba 1,8 Juta Tahun di Perbatasan Sragen

Kebesaran Candi Kembar yang Melahirkan Desa Wisata

Kebesaran Candi Plaosan inilah yang menjadi akar dari Desa Wisata Bugisan, yang menekankan tiga aspek utama, yaitu toleransi, alam, dan budaya. Desa ini resmi mulai menjadi desa wisata pada 2016, ditandai dengan digelarnya Festival Candi Kembar untuk pertama kalinya, hasil kerja sama dengan Institut Seni Indonesia atau ISI Surakarta. Peluncuran ini turut mendapat apresiasi langsung dari Bupati Klaten kala itu, yang berharap kegiatan tersebut menjadi salah satu bentuk promosi potensi wisata di wilayah Bugisan. Sejak saat itu, festival ini terus digelar setiap tahun dan berkembang menjadi satu-satunya festival budaya berskala besar di Kabupaten Klaten, menampilkan beragam pertunjukan seperti pagelaran karawitan, festival angklung, festival tari internasional, hingga festival wayang milenium.

Halaman Selanjutnya
img_title