Potensi Ekowisata Prafi Manokwari dan Strategi Mitigasi Bencana Berbasis Masyarakat
- unair.ac.id
Surabaya, WISATA – Wilayah Prafi, Kabupaten Manokwari, Papua Barat, menyimpan peluang besar untuk dikembangkan sebagai kawasan ekowisata. Kekayaan alam dan budaya lokal menjadi modal penting untuk menghadirkan destinasi wisata yang tidak hanya menarik, tetapi juga mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Namun, pengembangan pariwisata di Prafi tidak dapat dilepaskan dari kondisi geografis dan ancaman bencana. Banjir, tanah longsor, hingga gempa bumi menjadi sejumlah risiko yang perlu diperhitungkan sejak awal. Karena itu, pembangunan ekowisata idealnya berjalan beriringan dengan sistem mitigasi bencana yang kuat.
Ketua Tim Enam Ekspedisi Patriot Universitas Airlangga (UNAIR), Dr. Neffrety Nilamsari, S.Sos., M.Kes., menilai pendekatan berbasis masyarakat menjadi salah satu kunci untuk mewujudkan ekowisata yang tangguh terhadap bencana. Menurutnya, mitigasi tidak cukup hanya mengandalkan pembangunan fisik, tetapi perlu mencakup pemetaan risiko, sistem peringatan dini, kesiapsiagaan warga, hingga infrastruktur yang disesuaikan dengan karakter lingkungan.
Gagasan tersebut sejalan dengan program Tim Ekspedisi Patriot UNAIR 2026. Kampus ini menerjunkan 25 tim untuk berbagai kawasan transmigrasi, dengan 20 tim ditempatkan di Distrik Prafi, Manokwari. Program tersebut membawa pendekatan multidisiplin di bidang ekonomi, lingkungan, budaya, kesehatan, dan pemberdayaan masyarakat.
Salah satu tantangan dalam membangun infrastruktur mitigasi adalah potensi kerusakan terhadap lingkungan. Infrastruktur berskala besar dapat mengubah bentang alam dan mengurangi vegetasi yang justru menjadi daya tarik ekowisata. Karena itu, konsep infrastruktur hijau dinilai lebih sesuai.
Pendekatan tersebut dapat diwujudkan melalui desain yang minim intervensi terhadap alam, penggunaan material ramah lingkungan, serta pemanfaatan vegetasi lokal untuk membantu memperkuat kawasan rawan longsor. Dengan demikian, fungsi perlindungan terhadap bencana dapat berjalan tanpa mengorbankan ekosistem.
Pemberdayaan masyarakat adat juga menjadi bagian penting. Warga lokal tidak hanya ditempatkan sebagai penerima manfaat, tetapi dapat dilibatkan sebagai pemandu wisata, kader siaga bencana, hingga pengelola jalur evakuasi. Edukasi dapat dikemas melalui aktivitas yang dekat dengan keseharian masyarakat, seperti pelatihan singkat, simulasi evakuasi, serta pengelolaan sampah untuk mengurangi risiko penyumbatan drainase dan banjir.
Dalam program di Desa Udapi Hilir, Prafi, mahasiswa UNAIR Kelompok Enam turut menginisiasi penggunaan vegetasi lokal sebagai penahan longsor di tiga titik kritis di SP 4. Selain itu, dibangun pula pos pantau darurat di dua lokasi yang kerap terdampak banjir.