Misteri Lenyapnya Kerajaan Mataram Kuno, Diduga Kena Amukan Gunung Merapi Seribu Tahun Lalu
- Indonesia.travel
Yogyakarta, WISATA - Sobat Wisata Viva, pernah membayangkan sebuah kerajaan besar yang tiba-tiba lenyap dari peta kekuasaan tanpa alasan yang jelas? Itulah misteri yang menyelimuti Kerajaan Mataram Kuno, kerajaan Hindu yang pernah berjaya di Jawa Tengah sebelum akhirnya pusat pemerintahannya berpindah drastis ke Jawa Timur pada awal abad ke-11. Salah satu teori paling populer yang beredar hingga kini menyebut bahwa penyebab keruntuhan itu adalah amukan Gunung Merapi, gunung berapi yang hingga sekarang masih berdiri gagah di dekat Yogyakarta dan tergolong salah satu yang paling aktif di dunia.
Ketika Bencana Besar Tercatat dalam Prasasti Kuno
Jejak bencana ini tidak muncul begitu saja dari dugaan modern, melainkan tercatat dalam sumber sejarah kuno bernama Prasasti Pucangan, yang berangka tahun 963 Saka atau sekitar 1041 Masehi. Prasasti tersebut menyebut adanya bencana besar yang dalam bahasa Jawa Kuno disebut pralaya, sebuah istilah yang merujuk pada peristiwa yang menyebabkan kehancuran besar-besaran. Menurut catatan itu, pralaya di Kerajaan Mataram terjadi pada tahun 928 Saka, atau bertepatan dengan tahun 1006 Masehi. Ahli geologi asal Hindia Belanda, Reinout Willem van Bemmelen, menjadi salah satu ilmuwan pertama yang mengaitkan bencana ini dengan letusan besar Gunung Merapi.
Teori Letusan yang Mengubur Candi-Candi Megah
Berdasarkan kajian Van Bemmelen dalam bukunya The Geology of Indonesia yang terbit pada 1949, letusan besar Merapi pada 1006 diduga terjadi akibat pergerakan tektonik di sepanjang sesar yang menjadi dasar deretan gunung api Ungaran hingga Merapi. Guncangan gempa yang menyertainya diyakini turut merusak sebagian besar candi peninggalan Mataram, termasuk Candi Borobudur dan Candi Mendut yang dibangun pada abad ke-9. Aktivitas tektonik itu disebut-sebut diikuti longsoran besar dari tubuh Merapi serta letusan dahsyat, yang material vulkaniknya diperkirakan menimbun candi-candi tersebut sekaligus membendung aliran Kali Progo. Fakta menariknya, Candi Borobudur memang ditemukan dalam kondisi tertimbun tanah dan abu saat pertama kali diekspos kembali pada masa pemerintahan Thomas Stamford Raffles di awal abad ke-19, sebuah kondisi yang menguatkan dugaan adanya bencana besar di masa lampau.