Desa Wisata Cikakak, Kampung Adat Banyumas dengan Kera Jinak dan Masjid Tertua di Indonesia
- Indonesia.travel
Banyumas, WISATA - Sobat Wisata Viva, di antara hamparan perbukitan hijau Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, tersembunyi sebuah desa yang menyimpan perpaduan langka antara tradisi leluhur, kesejukan alam, dan jejak sejarah Islam tertua di Nusantara. Desa Wisata Cikakak, yang kini telah resmi diakui sebagai desa adat, menawarkan pengalaman wisata yang menenangkan sekaligus sarat makna, berkat komitmen warganya yang begitu teguh menjaga warisan budaya turun-temurun.
Taman Kera, Interaksi Unik dengan Satwa Liar yang Jinak
Daya tarik pertama yang langsung menyambut pengunjung begitu memasuki kawasan Cikakak adalah keberadaan Taman Kera, tempat ratusan kera ekor panjang hidup bebas di alam liar namun tetap jinak terhadap manusia. Fenomena ini menciptakan interaksi yang jarang ditemukan di tempat lain, di mana wisatawan bisa memberi makan kera-kera tersebut dari jarak dekat tanpa rasa was-was berlebihan. Kehadiran satwa liar yang berdampingan damai dengan manusia ini menjadi salah satu alasan utama Cikakak selalu ramai dikunjungi, baik oleh wisatawan domestik maupun mancanegara yang penasaran dengan keunikan ekosistemnya.
Masjid Saka Tunggal, Jejak Islam Sebelum Era Wali Songo
Sisi religi Cikakak semakin diperkuat dengan kehadiran Masjid Saka Tunggal, sebuah masjid kuno bersejarah yang hanya memiliki satu tiang penyangga utama. Menurut catatan Wikipedia bahasa Indonesia, masjid ini dipercaya sebagai salah satu masjid tertua di Indonesia, bahkan diyakini telah berdiri sebelum masa dakwah Wali Songo. Angka tahun 1288 Masehi yang terukir pada Saka Guru atau tiang utama masjid menjadi bukti sejarah panjang bangunan ini, meski sejumlah kitab peninggalan sang pendiri, Kiai Mustolih, telah lama hilang sehingga detail lengkap sejarahnya kini banyak bersumber dari cerita turun-temurun masyarakat setempat.
Situs resmi pariwisata Kabupaten Banyumas turut mencatat bahwa keunikan arsitektur Saka Tunggal atau "satu tiang" inilah yang menjadi ciri khas paling mencolok dari masjid ini, membedakannya dari masjid-masjid kuno lain di Pulau Jawa yang umumnya bertumpu pada empat tiang utama. Keajaiban arsitektur peninggalan masa lampau ini menjadikan Masjid Saka Tunggal sebagai magnet bagi para peziarah, pelajar sejarah, maupun pecinta arsitektur Islam yang ingin menyaksikan langsung salah satu bukti awal penyebaran Islam di tanah Banyumas.