Desa Wisata Bonjeruk, Jejak Distrik Hindia Belanda yang Tersembunyi di Lombok Tengah

Desa Wisata Bonjeruk
Sumber :
  • Indonesia.travel

Lombok, WISATA - Sobat Wisata Viva, di tengah popularitas Mandalika yang terus menanjak berkat gelaran balap dunia seperti MotoGP dan World Superbike, ada satu desa kecil tak jauh dari sana yang menyimpan cerita sejarah tak kalah menarik untuk ditelusuri. Namanya Desa Wisata Bonjeruk, sebuah kampung tua di Lombok Tengah yang memadukan jejak kolonial, kearifan budaya Sasak, dan kehidupan agraris yang masih terjaga hingga hari ini.

img_title Desa Wisata Bihe Gorontalo, River Tubing Ekstrem di Gerbang Tahura BJ Habibie

Asal-usul Nama yang Berakar dari Legenda Air

Sebelum menjelajahi lebih jauh, ada baiknya Sobat Wisata Viva mengenal dulu asal-usul nama desa ini. Konon, nama Bonjeruk berawal dari kisah utusan Kerajaan Pujut yang tengah mengalami masa kekeringan panjang, lalu menemukan sumber air di dekat sebatang pohon jeruk. Sumber air tersebut kemudian dijadikan sumur, atau dalam bahasa setempat disebut bowon, sehingga lahirlah nama Bonjeruk yang bertahan hingga sekarang. Kisah sederhana ini menjadi pengingat bahwa di balik setiap nama desa di Nusantara, tersimpan cerita panjang tentang perjuangan dan kearifan leluhur dalam menghadapi tantangan alam.

img_title Desa Wisata Selasari Pangandaran, Juara 4 ADWI dengan Body Rafting dan Seni Lebon

Desa yang terdiri dari empat belas dusun dengan penduduk yang mayoritas bersuku Sasak ini diperkirakan sudah berdiri sejak akhir abad ke-19, menjadikannya salah satu desa tua yang masih mempertahankan struktur sosial dan budaya aslinya hingga kini.

Ketika Bonjeruk Menjadi Pusat Pemerintahan Kolonial

img_title Desa Wisata Sangiran, Jejak Manusia Purba 1,8 Juta Tahun di Perbatasan Sragen

Fakta sejarah paling mengejutkan dari Bonjeruk adalah statusnya di masa lampau sebagai pusat pemerintahan tingkat Distrik Jonggat pada era kolonial Hindia Belanda. Jejak masa itu masih bisa disaksikan langsung lewat sejumlah bangunan tua bergaya arsitektur Eropa yang tersebar di sudut-sudut desa, menciptakan pemandangan yang unik karena begitu kontras dengan suasana pedesaan Lombok pada umumnya.

Salah satu peninggalan paling ikonik adalah gapura berwarna krem bertuliskan "Bondjeroek den 10 mei" lengkap dengan angka tahun 1933, bergaya art deco khas arsitektur kolonial. Gapura ini menjadi gerbang masuk menuju kompleks rumah yang dahulu berfungsi sebagai pusat pemerintahan Distrik Jonggat, dipimpin oleh putra daerah bernama Lalu Serinata, tokoh yang kelak tercatat sebagai bupati pertama Lombok Tengah. Perpaduan antara gaya bangunan Eropa dengan suasana kampung Sasak di sekelilingnya inilah yang menjadikan Bonjeruk terasa begitu berbeda dari desa wisata lain di Lombok.

Halaman Selanjutnya
img_title