Bingke Berendam, Kue Bunga Kelopak Enam Khas Pontianak yang Bikin Kangen Kampung Halaman
- Indonesia.travel
Pontianak, WISATA - Sobat Wisata Viva, di antara deretan kuliner khas Pontianak yang sudah lebih dulu populer seperti lek tau suan atau choi pan, ada satu kudapan manis yang diam-diam menyimpan kisah panjang dan wujud yang begitu khas: bingke berendam. Kue ini mudah dikenali dari bentuknya yang menyerupai bunga berkelopak enam, dengan tekstur lembut menyerupai puding yang meleleh lembut di lidah begitu digigit.
Kue Berbentuk Bunga yang Sarat Makna
Keunikan pertama yang langsung terlihat dari bingke berendam adalah bentuknya yang tidak biasa. Alih-alih berbentuk bulat atau kotak seperti kebanyakan kue tradisional lain, bingke dicetak menyerupai kelopak bunga kembang sepatu dengan enam sisi yang simetris. Bentuk semacam ini bukan sekadar hiasan estetika semata, melainkan telah menjadi identitas visual yang membedakan bingke dari kudapan Nusantara lainnya, sekaligus menjadikannya mudah dikenali meski hanya dilihat sekilas dari kejauhan.
Nama "bingke" sendiri diyakini berasal dari akar kata yang sama dengan "bingka", sebutan untuk kudapan serupa yang populer di kalangan masyarakat Banjar, Kalimantan Selatan. Kemiripan nama ini bukan kebetulan, mengingat baik bingke maupun bingka sama-sama berakar dari tradisi kuliner rumpun Melayu yang telah lama menetap di berbagai wilayah Kalimantan, sehingga wajar jika keduanya memiliki wujud dan cita rasa yang serupa meski tumbuh di daerah yang berbeda.
Warisan Leluhur yang Sudah Ada Sejak Lama
Meski catatan sejarah yang pasti mengenai asal-usul bingke di Pontianak masih menjadi misteri hingga kini, para pelaku usaha kue bingke turun-temurun sepakat bahwa resep ini merupakan warisan leluhur masyarakat Melayu yang telah diwariskan lintas generasi. Beberapa catatan sejarah kuliner bahkan mengaitkan asal mula resep serupa dengan kisah kerajaan Melayu di masa lampau, meski hingga kini belum ada satu sumber literatur pun yang bisa memastikan kebenaran cerita tersebut secara mutlak.
Yang jelas, bingke telah menjadi bagian tak terpisahkan dari khazanah kuliner Kota Khatulistiwa selama puluhan tahun. Dahulu, kue ini dikenal sebagai penganan khas yang identik dengan bulan Ramadan, kerap menjadi hidangan favorit untuk berbuka puasa berkat rasa manis dan gurihnya yang pas untuk mengembalikan tenaga setelah seharian berpuasa. Seiring waktu, popularitasnya terus meluas hingga kini bingke bisa dengan mudah ditemukan sepanjang tahun, tidak lagi terbatas pada momen Ramadan semata.