Waluku, Wisata Membajak Sawah ala Relief Borobudur yang Bawa Anda Hidup di Zaman Mataram Kuno
- Indonesia.travel
Magelang, WISATA - Sobat Wisata Viva, pernahkah terbayang bagaimana rasanya hidup sebagai petani di masa Kerajaan Mataram Kuno, ratusan tahun sebelum traktor dan mesin pertanian modern ada? Di kawasan Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, pengalaman itu kini bisa dirasakan langsung lewat paket wisata bertajuk Waluku atau "Cultivating Civilization". Wisata edukasi budaya ini mengajak pengunjung menyusuri jejak tradisi bertani masyarakat Jawa Kuno yang terekam abadi dalam ukiran relief Candi Borobudur, sekaligus mempraktikkannya langsung di sawah sungguhan.
Kisah di Balik Nama Waluku dan Relief Karmawibhangga
Nama Waluku sendiri diambil dari istilah kuno amaluku, yang berarti aktivitas membajak sawah menggunakan bajak tradisional atau luku yang ditarik sepasang sapi atau kerbau. Menurut catatan Balai Konservasi Borobudur, istilah semacam amaluku, atanam, amatun, hingga ahani masih dapat dijumpai penggunaannya dalam bahasa Jawa hingga sekarang, membuktikan betapa tradisi pertanian pada masa Kerajaan Mataram Kuno di bawah Wangsa Syailendra pada abad ke-9 hingga ke-10 masih hidup dan diwariskan turun-temurun.
Jejak kehidupan agraris tersebut tergambar jelas pada relief Karmawibhangga di kaki Candi Borobudur, yang menurut Balai Konservasi Borobudur menampilkan berbagai adegan keseharian masyarakat Jawa Kuno, mulai dari petani yang tengah membajak sawah, menabur benih, hingga menjaga tanaman padi dari gangguan hama di sebuah dangau kecil. Relief ini menjadi bukti nyata bahwa perekonomian masyarakat pada masa itu sangat bertumpu pada sistem sawah, baik sawah basah maupun sawah kering, sekaligus menunjukkan bahwa peternakan sapi dan kerbau sudah menjadi bagian penting dalam pengolahan lahan pertanian sejak lebih dari seribu tahun silam.
Rangkaian Aktivitas dalam Sehari Penuh Makna
Paket wisata Waluku dirancang dengan rangkaian aktivitas yang runtut, dimulai dari sesi interpretasi relief, di mana seorang storyteller akan menjelaskan secara mendalam kisah relief pertanian Borobudur kepada para peserta. Sobat Wisata Viva akan diajak memahami makna di balik setiap panel ukiran sebelum akhirnya turun langsung merasakan pengalaman menjadi petani Jawa Kuno.
Setelah sesi interpretasi, rombongan akan mengikuti kirab budaya, yaitu arak-arakan meriah yang membawa gunungan, tenggok atau wadah anyaman bambu, serta bibit padi, diiringi alunan musik kentongan khas pedesaan Jawa. Suasana kirab ini menghadirkan nuansa perayaan panen yang autentik, layaknya tradisi masyarakat agraris zaman dahulu.