Bukan Cuma Pempek, Ini Deretan Kuliner Khas Palembang yang Namanya Berasal dari Panggilan Apek
- Indonesia.travel
Palembang, WISATA - Selama ini makanan khas Palembang selalu identik dengan pempek, olahan ikan yang disajikan dengan kuah unik yang disebut dengan cuko. Namun, selain pempek, Palembang juga memiliki beberapa makanan khas lain yang menawarkan cita rasa yang unik dan wajib dicoba. Mulai dari sajian berkuah yang hangat, olahan daging berbumbu rempah, hingga kue-kue tradisional, setiap makanan memiliki rasa dan cerita yang menjadi bagian dari kekayaan budaya Palembang.
Ciri Khas Makanan Khas Palembang: Jejak Empat Budaya dalam Semangkuk Hidangan
Makanan khas Palembang berkembang melalui perpaduan budaya berbagai bangsa, seperti Arab, India, Tiongkok, dan Melayu, yang kemudian beradaptasi dengan bahan pangan serta rempah-rempah lokal. Kajian sejarah kuliner Palembang mencatat bahwa periodisasi akulturasi ini berlangsung panjang, mulai dari masa Kerajaan Sriwijaya, pengaruh bangsa Arab dan India, era Kesultanan Palembang yang membuka pintu bagi pedagang Tiongkok, hingga masa kolonialisme dan pendudukan Jepang. Perpaduan lintas zaman inilah yang melahirkan berbagai hidangan dengan karakter yang khas dan menjadi identitas kuliner Palembang hingga kini.
Salah satu ciri yang paling menonjol adalah penggunaan rempah-rempah yang menghasilkan cita rasa gurih, sedikit pedas, dan terkadang berpadu dengan sentuhan asam. Selain itu, ikan air tawar, seperti ikan tenggiri dan patin, menjadi bahan utama dalam berbagai hidangan, sementara santan dan kuah berbumbu juga banyak digunakan untuk menciptakan rasa yang kaya dan unik. Kekayaan bahan baku dari Sungai Musi yang membelah Kota Palembang inilah yang menjadi fondasi utama, sebelum kemudian diperkaya dengan teknik dan bumbu dari berbagai bangsa pendatang.
Pempek, Ikon Kuliner yang Namanya Berasal dari Panggilan "Apek"
Pempek merupakan ikon kuliner Palembang yang sangat populer di berbagai daerah di Indonesia. Hidangan ini dibuat dari campuran daging ikan giling, tepung tapioka, air, dan bumbu, kemudian disajikan bersama kuah cuko yang memiliki perpaduan rasa asam, manis, pedas, dan gurih. Menariknya, nama "pempek" sendiri menyimpan cerita akulturasi yang menarik ditelusuri. Konon, sebelum dikenal dengan nama pempek, hidangan ini lebih dulu disebut kelesan, merujuk pada proses menghaluskan daging ikan yang di-keles atau ditekan-tekan menggunakan alat dari batok kelapa berlubang. Nama pempek baru populer belakangan, diyakini berasal dari panggilan pembeli kepada penjual keliling keturunan Tionghoa yang kerap disapa "apek", sebutan untuk pria tua dalam dialek Tionghoa yang berarti paman. Teori lain bahkan menyebut pempek sebagai adaptasi Palembang dari hidangan Tionghoa selatan seperti ngo hiang atau kekkian, olahan berbasis surimi atau daging ikan lumat yang memang lazim ditemukan dalam kuliner Tionghoa pesisir.