Spice Island Tour with Janet DeNeefe, Napak Tilas Pulau yang Dulu Ditukar dengan Manhattan
- Indonesia.travel
Bali, WISATA - Sobat Wisata Viva, Indonesia dikenal luas sebagai Kepulauan Rempah yang menyimpan potensi kuliner sangat unik dan bernilai global tinggi. Potensi tersebut tidak hanya tercermin dari cita rasanya, tetapi juga kisah para pelaut dan pertukaran budaya bangsa. Spice Island Tour with Janet DeNeefe hadir untuk mengajak wisatawan menjelajahi wilayah legendaris ini secara mendalam. Program ini dipimpin langsung oleh Janet DeNeefe selaku founder yang memiliki kecintaan mendalam pada kuliner dan budaya Indonesia.
Menyusuri Jejak Kepulauan Rempah Bersama Sang Pendiri Ubud Food Festival
Sobat Wisata Viva mungkin belum familier dengan sosok di balik tur eksklusif ini. Janet DeNeefe adalah perempuan kelahiran Melbourne yang telah menetap di Bali selama lebih dari tiga dekade. Ia dikenal luas sebagai pendiri Ubud Food Festival dan Ubud Writers & Readers Festival, sekaligus pemilik Casa Luna, restoran ikonik di Jalan Raya Ubud yang telah berdiri sejak 1992. Kecintaannya pada kuliner Nusantara juga tertuang dalam dua buku yang ia tulis, yaitu Fragrant Rice dan Bali: Food of My Island Home. Latar belakang inilah yang membuat Janet tak sekadar memandu perjalanan, melainkan juga menghidupkan setiap cerita di balik rempah-rempah yang disinggahi.
Pelayaran Phinisi Ramah Lingkungan dari Ambon ke Banda Neira
Perjalanan dimulai dari Ambon dengan berlayar menggunakan kapal Phinisi EcoXplorer yang ramah lingkungan, kapal layar tradisional khas Indonesia yang kini banyak diadaptasi untuk pelayaran wisata berkelanjutan. Wisatawan diajak mengunjungi Saparua, Rhun, Banda Neira, dan Hatta untuk menikmati keindahan tropis serta reruntuhan benteng kolonial. Setiap pulau yang disinggahi menawarkan lapisan sejarah berbeda, mulai dari masa kejayaan perdagangan pala hingga jejak kolonial Belanda yang masih membekas pada arsitektur benteng-benteng tuanya.
Pulau Rhun, Saksi Sejarah yang Pernah Ditukar dengan Manhattan
Salah satu momen paling berkesan terjadi di Pulau Rhun yang dulunya pernah ditukar dengan Manhattan karena pala berharganya. Fakta sejarah ini merujuk pada Treaty of Breda atau Perjanjian Breda yang ditandatangani pada 1667, ketika Inggris dan Belanda sepakat mengakhiri Perang Inggris-Belanda Kedua. Dalam perjanjian tersebut, Inggris memilih mempertahankan New Amsterdam, yang kemudian berganti nama menjadi New York, sementara Belanda memperoleh kendali penuh atas Pulau Rhun demi memonopoli perdagangan pala dan fuli yang saat itu bernilai setara emas di pasar Eropa. Berdiri di Pulau Rhun sekarang, sulit membayangkan bahwa sepetak tanah kecil ini pernah menjadi rebutan dua kekuatan kolonial besar dunia.