Mercusuar ZM Willem di Pulau Sapudi Sumenep: Jejak Sejarah Peninggalan Belanda yang Masih Berdiri Kokoh
- IG/insine24
Sumenep, WISATA – Di ujung timur Pulau Madura, tepatnya di Desa Tarebung, Kecamatan Gayam, Kabupaten Sumenep, berdiri sebuah bangunan bersejarah yang hingga kini masih menjadi penanda penting bagi pelayaran di Laut Jawa. Bangunan tersebut adalah Mercusuar ZM Willem di Pulau Sapudi, sebuah menara suar peninggalan pemerintah kolonial Belanda yang telah berusia lebih dari satu abad. Selain memiliki nilai historis yang tinggi, mercusuar ini juga menjadi salah satu destinasi wisata sejarah yang menarik untuk dikunjungi saat menjelajahi Pulau Sapudi.
Mercusuar ini dibangun pada tahun 1887 pada masa pemerintahan Raja Belanda Willem III (Zijne Majesteit Willem III). Karena itulah masyarakat setempat mengenalnya dengan nama Mercusuar ZM Willem. Pembangunannya diperkirakan memakan waktu sekitar empat tahun hingga akhirnya selesai dan mulai difungsikan sebagai penuntun navigasi bagi kapal-kapal yang melintasi perairan sekitar Pulau Sapudi.
Dengan tinggi mencapai sekitar 80 meter, Mercusuar ZM Willem menjadi salah satu bangunan tertinggi di wilayah Kepulauan Sumenep. Untuk menopang bangunan tersebut, pondasinya ditanam hingga kedalaman sekitar 15 meter. Konon, konstruksi pondasi menggunakan campuran material yang diperkuat dengan cor berbahan timah, sehingga menghasilkan struktur yang sangat kokoh. Tak mengherankan jika hingga kini mercusuar tersebut masih berdiri tegak meski telah melewati lebih dari 130 tahun terpaan angin laut, hujan, hingga gempa bumi.
Keistimewaan lainnya adalah desain bangunan yang dirancang tahan terhadap gempa maupun sambaran petir. Untuk mencapai puncak menara, pengunjung harus menaiki sekitar 350 anak tangga berbentuk spiral yang mengelilingi bagian dalam menara. Dari atas mercusuar, panorama laut lepas Pulau Sapudi, garis pantai, serta aktivitas kapal nelayan terlihat sangat memukau, terutama saat cuaca cerah.
Pada masa awal operasionalnya, Mercusuar ZM Willem menggunakan lampu pijar berputar yang memperoleh sumber energi dari gas karbit (kalsium karbida). Sistem pencahayaan tersebut mampu memancarkan sinar hingga sekitar 18 mil laut atau kurang lebih 33 kilometer, sehingga sangat membantu pelayaran di kawasan Laut Jawa dan Selat Madura sebelum berkembangnya teknologi navigasi modern.
Meski kini sistem penerangannya telah mengalami modernisasi mengikuti perkembangan teknologi milik Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, bangunan utama mercusuar tetap dipertahankan sebagai cagar sejarah. Keberadaannya tidak hanya berfungsi sebagai sarana keselamatan pelayaran, tetapi juga menjadi saksi perkembangan transportasi laut di Indonesia sejak era kolonial.