Bunga Abadi di Lereng Bromo: Rahasia Kepercayaan Suku Tengger Menjaga Edelweis dari Kepunahan
- IG/buketbungapacet
Bromo, WISATA - Sobat Wisata Viva, siapa yang tidak kenal edelweis? Bunga yang kerap disebut "bunga abadi" ini menjadi incaran para pendaki karena keindahannya yang tahan lama meski sudah dipetik. Namun, tahukah Sobat Wisata Viva bahwa di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), keberadaan edelweis ternyata dijaga bukan hanya oleh aturan taman nasional, tetapi juga oleh kepercayaan turun-temurun masyarakat Tengger yang telah mengakar ratusan tahun.
Sebuah kajian akademik yang dipublikasikan dalam jurnal MAHACITA: Jurnal Pencinta Alam dan Lingkungan edisi Juni 2026 mengungkap bagaimana kosmologi masyarakat Tengger di Desa Wonokitri, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, menjadi salah satu penopang konservasi edelweis Jawa (Anaphalis javanica) di kawasan Bromo. Penelitian ini menegaskan bahwa mitos dan sistem kepercayaan lokal bukan sekadar cerita rakyat, melainkan tata kelola sosial-ekologis yang benar-benar bekerja di lapangan.
Kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru di Jawa Timur
- FB: MOVIEBOXX
Filosofi Prahyangan, Pawongan, dan Palemahan
Masyarakat Tengger dikenal sebagai komunitas Hindu Jawa asli yang memegang teguh tiga relasi fundamental, yaitu prahyangan, pawongan, dan palemahan. Ketiga konsep ini masing-masing merujuk pada hubungan spiritual manusia dengan Tuhan, hubungan harmonis antarsesama manusia, serta hubungan timbal balik dengan alam sekitar. Filosofi inilah yang menjadi landasan bagi berbagai praktik budaya Tengger, termasuk tradisi Tamping, yang secara turun-temurun mengajarkan warga untuk memperlakukan alam bukan sebagai objek eksploitasi, melainkan sebagai bagian dari tatanan hidup yang harus dihormati.
Bagi Sobat Wisata Viva yang berkesempatan berkunjung ke Wonokitri, filosofi ini bisa dirasakan langsung lewat cara warga setempat memperlakukan kawasan sekitar Gunung Bromo. Bukan sekadar aturan tertulis, melainkan kesadaran batin yang diwariskan lintas generasi.
Tanalayu, Bunga Sakral yang Kian Langka
Dalam tradisi lisan masyarakat Tengger, edelweis dikenal dengan sebutan tanalayu. Berbeda dengan pandangan umum yang hanya melihat edelweis sebagai bunga cantik untuk difoto, bagi warga Tengger, tanalayu adalah entitas sakral yang keberadaannya terkait erat dengan identitas sosial dan spiritual komunitas. Kepunahannya bukan hanya dianggap sebagai kerugian ekologis, tetapi juga ancaman terhadap keberlangsungan jati diri budaya mereka.