Tradisi Ngayah dan Ngelawar Perkuat Gotong Royong Umat Hindu di Karya Agung Pura Sodong Tangerang
- IG/una_indonesia
Tangerang, WISATA – Semangat kebersamaan dan pengabdian tanpa pamrih mewarnai pelaksanaan rangkaian Karya Agung Ngenteg Linggih, Taur Gentuh, dan Pujawali di Parahyangan Agung Bhuwana Raksati (Pura Sodong), Tigaraksa, Kabupaten Tangerang. Suasana hangat tampak ketika umat Hindu bergotong royong menjalankan tradisi ngayah dan ngelawar sebagai bagian dari persiapan upacara suci.
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu Kementerian Agama, Prof. I Nengah Duija, turut hadir dan terlibat langsung dalam kegiatan tersebut. Tidak sekadar menghadiri acara seremonial, ia membaur bersama para penyungsung pura, pengurus, serta masyarakat untuk menyiapkan lawar yang akan digunakan dalam prosesi keagamaan.
Keterlibatan langsung ini menjadi simbol pendekatan pelayanan Direktorat Jenderal Bimas Hindu yang mengutamakan kedekatan dengan umat. Melalui partisipasi aktif dalam kegiatan tradisional, pemerintah ingin menunjukkan bahwa pembinaan kehidupan beragama tidak hanya diwujudkan melalui kebijakan, tetapi juga lewat kehadiran dan kerja bersama masyarakat.
Ngayah merupakan salah satu warisan nilai luhur dalam ajaran Hindu. Tradisi tersebut mengandung makna pengabdian tulus, semangat gotong royong, dan tanggung jawab bersama dalam menjaga kehidupan sosial maupun keagamaan.
Ia menegaskan bahwa pihaknya ingin terus memperkuat komunikasi dengan umat melalui kegiatan seperti ngayah dan ngelawar. Menurutnya, kebersamaan yang terjalin dalam proses persiapan upacara mampu mempererat hubungan antara pemerintah dan masyarakat sekaligus memperkuat pelayanan kepada umat Hindu.
Lebih lanjut, Prof. Duija menilai nilai-nilai yang terkandung dalam ngayah sangat relevan dengan arah pembangunan kehidupan beragama yang sedang dikembangkan Kementerian Agama. Semangat ketulusan, kepedulian, dan kebersamaan menjadi modal sosial yang penting dalam memperkokoh kerukunan antarumat, menjaga kelestarian budaya, serta mendukung implementasi konsep ekoteologi yang menekankan harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan.
Ia juga memberikan apresiasi kepada seluruh penyungsung dan umat Hindu yang telah bekerja bersama demi menyukseskan Karya Agung. Menurutnya, keberhasilan sebuah upacara keagamaan tidak hanya ditentukan oleh kelancaran prosesi ritual, tetapi juga oleh kuatnya rasa persatuan dan kolaborasi seluruh elemen masyarakat.
Sambutan positif juga datang dari Jero Mangku Gede Suwono. Ia menilai kehadiran langsung Dirjen Bimas Hindu memberikan contoh nyata bahwa semangat melayani seharusnya diwujudkan melalui tindakan, bukan sekadar kata-kata. Kebersamaan yang terbangun selama pelaksanaan karya diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk terus melestarikan budaya gotong royong.