Pesona Erau Adat Kutai 2026: Festival Budaya Tertua dan Ritual Sakral Mengulur Naga di Tenggarong

Erau Adat Kutai 2026
Sumber :
  • Indonesiatravel

Tenggarong, WISATA - Bagi Sobat Wisata Viva yang merindukan petualangan budaya sarat nilai sejarah dan keanggunan tradisi istana, Kalimantan Timur kembali bersiap menghadirkan salah satu pesta rakyat terbesar di Indonesia. Perhelatan budaya tertua dan paling ikonik di Nusantara, Erau Adat Kutai 2026, dipastikan kembali digelar pada tanggal 21 hingga 29 September 2026 di Kota Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Diselenggarakan di tanah leluhur Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, festival ini dapat dinikmati secara gratis oleh seluruh wisatawan dan masyarakat lokal.

img_title Menikmati Keindahan Alam dan Budaya Autentik di Desa Wisata Pentingsari Yogyakarta yang Mendunia

Erau bukan sekadar panggung pertunjukan seni tahunan biasa, melainkan sebuah ruang sakral penyucian diri dan wujud rasa syukur yang diwariskan secara bertahap selama ratusan tahun. Perpaduan antara tradisi kerajaan yang masih hidup, tarian keraton yang memukau, serta kegembiraan rakyat dalam siraman air menjadikannya agenda wisata budaya unggulan yang memikat perhatian dunia internasional.

Sejarah Panji Kesultanan dan Ritual Sakral Erau Adat Kutai

img_title Meriahnya Temu Alumni FPP UNDIP 2026, Anjungan Joglo '90 Bawa Alumni Bernostalgia Lewat Mi Kopyok Semarang

Akar kata erau berasal dari bahasa lokal eroh yang memiliki arti riuh, ramai, dan penuh kegembiraan. Tradisi ini pertama kali dilaksanakan saat upacara tijak tanah dan penobatan Raja Kutai Kartanegara pertama, Aji Batara Agung Dewa Sakti, pada abad ke-13. Seiring berjalannya waktu, tradisi ini berkembang menjadi ritual resmi kesultanan untuk memohon keselamatan negeri, kelimpahan hasil bumi, serta kesejahteraan bagi seluruh rakyat di sepanjang aliran Sungai Mahakam.

Prosesi Erau diawali dengan ritual sakral mendirikan tiang ayu, yaitu pengangkatan tiang pusaka kerajaan sebagai penanda dimulainya perayaan adat secara resmi. Selama sembilan hari penyelenggaraan, suasana Tenggarong diselimuti oleh suasana magis lewat lantunan mantra para dewali dan bencana (petugas adat wanita dan pria), pementasan tarian sakral keraton seperti Tari Ganjur, hingga puncak ritual Mengulur Naga. Dalam tradisi Mengulur Naga, sepasang replika naga raksasa diarak menyusuri Sungai Mahakam menuju kawasan Kutai Lama untuk dilarung, menandai kembalinya sang naga ke asal muasalnya.

img_title Noe Letto Ngopi di Festival Kopi Nusantara Bondowoso, Soroti Kekuatan Rasa dan Ekosistem Kopi Lokal

Pesta Air Belimbur dan Selebrasi Seni Internasional

Setelah prosesi pelarungan naga selesai, dimulailah tradisi yang paling dinanti oleh ribuan masyarakat dan wisatawan, yaitu Belimbur. Ritual Belimbur adalah prosesi saling menyiramkan air suci dari Sungai Mahakam sebagai simbol pembersihan diri dari segala pengaruh buruk, kesalahan, dan kesialan. Seluruh warga kota, pelancong, hingga kerabat kesultanan turun ke jalanan Tenggarong untuk saling menyiramkan air dalam suasana penuh kehangatan, kegembiraan, dan rasa persaudaraan yang erat.

Halaman Selanjutnya
img_title