Reuni Emas SD Slamet Riyadi Semarang: Wisata Sehat Menyusuri Jejak Kolonial dan Kenangan Masa Kecil di Jatingaleh
- Koleksi Almetri 76
Semarang, WISATA – Reuni sekolah biasanya identik dengan makan bersama, berbagi kabar, dan mengabadikan momen lewat foto. Namun, Reuni Emas (50 Tahun) Alumni Angkatan 1976 SD Slamet Riyadi Semarang—yang kini bernama SD Negeri Jatingaleh 02—menghadirkan pengalaman yang berbeda. Digelar pada 18–19 Juli 2026, kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang melepas rindu, tetapi juga menghadirkan wisata sehat sekaligus perjalanan sejarah yang sarat makna.
Meski dihadiri kurang dari 25 peserta, suasana kebersamaan terasa hangat dan penuh keakraban. Setelah menikmati makan malam dan sesi ramah tamah, agenda yang paling dinantikan berlangsung pada pagi hari berikutnya, yaitu jalan sehat napak tilas menuju kawasan tempat mereka tumbuh dan menghabiskan masa kecil.
Mayoritas peserta merupakan anak-anak anggota TNI yang dahulu tinggal di rumah dinas kawasan Jalan Kesatrian, Jatingaleh. Karena itulah, rute jalan kaki yang ditempuh bukan sekadar perjalanan biasa, melainkan perjalanan kembali ke ruang-ruang kenangan yang telah ditinggalkan selama setengah abad.
Langkah demi langkah membawa para alumni menyusuri deretan bangunan tua peninggalan masa kolonial Belanda. Rumah-rumah berukuran besar dengan arsitektur khas Eropa masih berdiri di sejumlah sudut kawasan. Dinding tebal, jendela tinggi, serta tata ruang yang lapang menghadirkan suasana yang sulit ditemukan pada bangunan modern saat ini.
Cagar Budaya
- koleksi Elly Martyasrini
Bagi sebagian peserta, kegiatan tersebut terasa seperti menikmati wisata heritage eksklusif. Selain menyehatkan karena dilakukan dengan berjalan kaki, napak tilas ini juga membuka kembali ingatan tentang kehidupan masa kecil di lingkungan militer yang penuh kebersamaan. Tak heran jika banyak peserta sibuk mengabadikan bangunan-bangunan tua yang masih bertahan hingga kini. Sayangnya, beberapa di antaranya tampak kurang terawat sehingga memunculkan keprihatinan akan pentingnya pelestarian cagar budaya.
Salah satu titik paling ikonik dalam perjalanan adalah Reservoir Kepoh atau yang lebih dikenal masyarakat sebagai Bak Banyu. Reservoir peninggalan Belanda ini dibangun pada tahun 1912 dan hingga sekarang masih berfungsi sebagai bagian dari sistem distribusi air bersih Kota Semarang yang dikelola oleh PDAM Tirta Moedal. Keberadaannya menjadi bukti bahwa infrastruktur berusia lebih dari satu abad masih mampu memberikan manfaat bagi masyarakat modern. Data historis sistem penyediaan air Kota Semarang juga mencatat Reservoir Kepoh sebagai salah satu reservoir distribusi yang dibangun pada tahun 1912 bersama Reservoir Siranda dan Jomblang.