Bayan Ancient Tree di Tabanan Bali: Jejak Pohon Berusia Lebih dari 700 Tahun yang Menyimpan Sejarah Kerajaan Perean
- IG/info_marga
Tabanan, WISATA – Di balik hamparan sawah dan suasana pedesaan yang tenang di Kabupaten Tabanan, Bali, berdiri sebuah pohon raksasa yang telah menjadi saksi perjalanan sejarah selama berabad-abad. Pohon yang dikenal sebagai Bayan Ancient Tree atau Pohon Kayu Putih ini berada di Banjar Bayan, Desa Tua, Kecamatan Marga, tepat di sisi belakang Pura Babakan. Keberadaannya bukan hanya memikat wisatawan karena ukurannya yang luar biasa, tetapi juga menyimpan kisah sejarah, nilai spiritual, dan peran penting bagi lingkungan.
Pohon ini diperkirakan memiliki tinggi sekitar 50–70 meter dengan batang berdiameter sekitar enam meter. Akar-akarnya yang besar membentuk pola unik sehingga menciptakan pemandangan yang megah. Selama bertahun-tahun, Bayan Ancient Tree menjadi salah satu ikon wisata alam sekaligus wisata budaya di Tabanan.
Menurut cerita yang diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat setempat, keberadaan pohon ini berkaitan erat dengan masa Kerajaan Perean. Pohon tersebut diyakini telah tumbuh jauh sebelum Pura Babakan didirikan pada sekitar abad ke-15. Karena itulah banyak warga memperkirakan usianya telah melampaui 700 tahun, bahkan berasal dari sekitar abad ke-13 atau ke-14, ketika kawasan Desa Tua mulai berkembang sebagai permukiman awal. Meski belum ada penelitian ilmiah yang memastikan usia pastinya melalui metode dendrokronologi atau penanggalan lainnya, kisah lisan masyarakat terus dijaga sebagai bagian dari identitas budaya desa.
Nama Pura Babakan sendiri dipercaya berasal dari kata babakan, yaitu kulit kayu yang disayat. Dahulu masyarakat memanfaatkan kulit pohon tersebut sebagai ramuan pengobatan tradisional. Dari sinilah pohon tersebut tidak hanya dipandang sebagai bagian dari alam, tetapi juga sebagai sumber kehidupan yang memberi manfaat bagi masyarakat sekitar. Hingga kini masyarakat adat masih rutin menggelar upacara keagamaan setiap 210 hari sebagai bentuk penghormatan kepada alam dan ungkapan syukur atas keberadaan pohon tersebut.
Menariknya, meskipun selama bertahun-tahun dikenal sebagai "Pohon Kayu Putih", beberapa kajian akademik menyebut bahwa pohon tersebut kemungkinan merupakan spesies Ficus variegata, salah satu jenis ara atau beringin hutan, bukan tanaman kayu putih (Melaleuca cajuputi) sebagaimana nama populernya. Penamaan "Kayu Putih" diduga muncul karena warna batangnya yang terang keputihan, bukan berdasarkan identifikasi botani. Hal ini menunjukkan bagaimana pengetahuan lokal dan penelitian ilmiah dapat berkembang berdampingan dalam memahami warisan alam tersebut.