Festival Bubur Suro di Pekalongan, Jawa Tengah, Terus Lestari dan Mengakar di Tengah Masyarakat

Tradisi Bubur Suro di Pekalongan, Jawa Tengah
Sumber :
  • jatengprov.go.id

Pekalongan, WISATA  Tradisi Bubur Suro yang terus lestari di tengah masyarakat Krapyak, Kota Pekalongan, Jawa Tengah, didorong untuk memperoleh pengakuan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb). 

Langkah ini diharapkan dapat memperkuat perlindungan, serta menjaga keberlanjutan tradisi yang terus berkembang dan mendapat antusiasme tinggi dari masyarakat.

Wali Kota Pekalongan, Afzan Arslan Djunaid mengatakan, Festival Bubur Suro bukan sekadar agenda tahunan, tetapi juga menjadi simbol kebersamaan, gotong royong, dan pelestarian budaya lokal.

“Kita ingin tradisi ini terus dijaga. Ke depan, dengan dukungan masyarakat dan panitia, Festival Bubur Suro akan kita dorong menjadi Warisan Budaya Takbenda sehingga semakin dikenal dan terlindungi,” ujarnya, usai menghadiri penutupan Syafaat Festival Bubur Suro 2026, di Lapangan Leo Krapyak (12/7/2026).

Menurut Aaf - sapaan akrabnya, penyelenggaraan festival terus berkembang sejak tahun 2019. 

Tahun 2026 ini, 5.000 tangkir Bubur Suro dikirab dari Kantor Kelurahan Krapyak menuju lokasi festival, kemudian dibagikan gratis kepada ribuan warga. 

Jumlah ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya, yang mencapai 3.000 porsi.

Tak hanya menjadi ruang pelestarian budaya, festival tersebut juga turut menggerakkan perekonomian masyarakat.

img_title Pengkang Mempawah, Ketan Bakar Legendaris yang Telah Bertahan Empat Generasi Sejak 1934

70 stan UMKM terlibat dalam kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian Road to Festival Ekonomi Syariah (FESyar), menuju Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2026.

Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia, Tegal Bimala menambahkan, kolaborasi dalam Festival Bubur Suro menjadi salah satu upaya mengangkat budaya lokal, sekaligus memperkuat ekonomi syariah di daerah.

“Kami melihat Festival Bubur Suro ini sangat lokal dan memiliki potensi besar. Budaya seperti ini perlu terus diangkat, agar masyarakat merasa memiliki dan semakin bangga terhadap tradisi daerahnya,” imbuhnya.

Rangkaian festival juga berhasil menghimpun wakaf produktif sekitar Rp68 juta. 

Dana ini akan dimanfaatkan untuk mendukung pengembangan bibit padi Biosalin, bagi kawasan pesisir.

(Sumber: jatengprov.go.id)