Pesona Social Ecotourism Kampung Wisata Dewa Bronto: Petualangan Susur Sungai Code dan Jejak Bangsawan Mataram

Kampung Wisata Dewa Bronto
Sumber :
  • visitingjogja.jogjaprov.go.id

Yogyakarta, WISATA - Yogyakarta tidak pernah kehabisan cerita untuk memikat para petualang yang haus akan keunikan budaya dan keasrian alam. Bagi Sobat Wisata Viva yang ingin merasakan sensasi liburan alternatif yang memadukan antara aksi kepedulian lingkungan dan pelestarian sejarah, cobalah melipir ke arah selatan kota. Di sana terdapat sebuah destinasi berbasis social ecotourism yang menawan, memanfaatkan kawasan bantaran Daerah Aliran Sungai (DAS) Code bagian selatan sebagai daya tarik utamanya. Tempat eksotis ini bernama Kampung Wisata Dewa Bronto.

img_title Desa Wisata Cikakak, Kampung Adat Banyumas dengan Kera Jinak dan Masjid Tertua di Indonesia

Secara administratif, kampung wisata yang penuh semangat gotong royong ini berada di wilayah Kelurahan Brontokusuman, Kecamatan Mergangsan, Kota Yogyakarta. Nama Dewa Bronto sendiri berakar kuat dari nama kelurahan setempat, yang konon merujuk pada pemukiman yang bertumbuh di sekeliling bangunan bersejarah bernama Dalem Brontokusuman. Mengunjungi wilayah ini tidak hanya memanjakan mata dengan pemandangan sungai yang tertata, tetapi juga mengajak kita menyelami lembaran sejarah dari para bangsawan Keraton Kasultanan Yogyakarta di masa lampau.

Melacak Jejak Sejarah Dalem Brontokusuman Hingga Era Bung Karno

img_title Desa Wisata Bonjeruk, Jejak Distrik Hindia Belanda yang Tersembunyi di Lombok Tengah

Berdasarkan kisah sejarah dan penuturan turun-temurun di tengah masyarakat, Dalem Brontokusuman dahulunya merupakan kediaman resmi dari Gusti Bendara Raden Ayu Brontokusumo. Beliau merupakan putri ke-8 dari raja Sri Sultan Hamengku Buwono VII bersama permaisuri GKR. Kencana. Sebelum menyandang namanya tersebut, sang putri awalnya bergelar GKR. Condrokirono I, namun setelah dipersunting oleh KRT. Brontokusumo—seorang abdi dalem penting yang akhirnya menjabat sebagai Bupati Nayaka Werdana Keparak Tengen—namanya berganti mengikuti sang suami.

Sesuai dengan adat istiadat dan tradisi yang berlaku di Keraton Yogyakarta, sang raja selalu memfasilitasi tempat tinggal bagi putra-putrinya. Namun, bagi anak perempuan, kepemilikan dalem tersebut hanya bersifat hak pakai selama sang putri masih hidup. Usai GBRAy. Brontokusumo wafat, bangunan keraton tersebut diambil kembali oleh pihak istana dan sempat dibiarkan kosong dalam kurun waktu yang cukup lama.

img_title Wisata Unik Penang: Menelusuri Jejak Kuil Ular yang Penuh Misteri

Sejarah mencatat sebuah momen unik pada masa awal kemerdekaan, di mana Presiden Pertama RI, Bung Karno, meminjam area halaman depan dari dalem kosong ini untuk mendirikan bangunan Museum Perjuangan yang berdiri kokoh hingga kini. Setelah masa itu, hak pakai dalem diserahkan kepada GBPH. Puger, putra bungsu ke-41 Sri Sultan Hamengku Buwono VII dari garwa BRAy. Retnopuspito. Hal inilah yang membuat kompleks bangunan tersebut kini juga akrab dikenal dengan nama Dalem Pugeran, meski wilayah pemukiman di sekitarnya tetap abadi dengan nama Kampung Brontokusuman.

Halaman Selanjutnya
img_title