Menelusuri Lorong Waktu Mataram Islam: Eksplorasi Sejarah dan Kuliner Autentik di Kampung Wisata Purbayan Kotagede
- visitingjogja.jogjaprov.go.id
Yogyakarta, WISATA - Yogyakarta selalu punya daya magis tersendiri yang membuat siapa saja rindu untuk kembali berkunjung. Bagi Sobat Wisata Viva yang ingin merasakan sensasi liburan yang berbeda, bergeserlah sedikit ke arah tenggara pusat kota, tepatnya ke kawasan legendaris Kotagede. Di tempat yang menjadi saksi bisu berdirinya Kerajaan Mataram Islam ini, terdapat sebuah destinasi yang sarat akan nilai historis bernama Kampung Wisata Purbayan. Secara kewilayahan, kampung ini berada di Kelurahan Purbayan, Kecamatan Kotagede, dan termasuk dalam Kawasan Cagar Budaya Kotagede yang sebagian wilayahnya berbatasan langsung dengan Kabupaten Bantul.
Nama Purbayan sendiri konon diambil dari nama seorang pangeran tersohor, yaitu Pangeran Purboyo yang merupakan putra dari raja pertama Mataram Islam, Panembahan Senopati. Berjalan menyusuri kampung ini seolah membawa kita menembus lorong waktu kembali ke masa abad ke-16. Struktur tatanan kampungnya yang asri, dipadukan dengan arsitektur rumah tradisional Jawa yang megah dan keramahan penduduk setempat, menjadikan aktivitas susur kampung (blusukan) dengan metode bercerita (storytelling) di sini terasa sangat hidup dan memikat hati para pelancong.
Menjelajahi Empat Kampung Historis Penyusun Purbayan
Pondasi utama kekuatan Kampung Wisata Purbayan terletak pada keunikan empat wilayah kampung di dalamnya yang masing-masing memiliki rekam jejak sejarah yang kuat. Pertama adalah Kampung nDalem yang terletak di sebelah selatan pasar Kotagede. Dinamakan Kampung nDalem karena pada masa pemerintahan Panembahan Senopati hingga Sultan Agung, area ini berfungsi sebagai bagian inti atau kompleks keraton Kerajaan Mataram Islam. Sisa kejayaan yang bisa Sobat Wisata Viva saksikan langsung di sini berupa runtuhan benteng Cepuri dan sebuah batu andesit hitam misterius berukuran dua kali dua meter bernama Watu Gilang yang diyakini masyarakat sebagai singgasana resmi Panembahan Senopati.
Kampung kedua yang tidak kalah unik adalah Kampung Alun-alun yang dahulunya berfungsi sebagai lapangan utama keraton. Saat ini, Kampung Alun-alun sangat terkenal di kalangan pencinta arsitektur dengan julukan Between Two Gates. Sebutan unik ini melekat karena rumah-rumah tradisional di kampung ini dibangun berbanjar dari timur ke barat secara saling berhadapan utara dan selatan, dipisahkan oleh lorong kecil berlantai batu yang menghubungkan dua gerbang utama di masing-masing ujungnya.