Malioboro Full Pedestrian Mulai November 2026, Yogyakarta Hadirkan Kawasan Wisata yang Nyaman dan Ramah Pejalan Kaki
- IG/jogjaimages
Yogyakarta, WISATA – Pemerintah Daerah (Pemda) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) terus mematangkan transformasi kawasan Malioboro menjadi kawasan full pedestrian yang ditargetkan mulai berlaku pada akhir November 2026. Kebijakan ini menjadi bagian dari upaya penataan ruang publik sekaligus menghadirkan kawasan wisata yang lebih aman, nyaman, sehat, dan ramah bagi pejalan kaki.
Sebagai salah satu destinasi wisata paling populer di Indonesia, Malioboro setiap hari dipadati wisatawan, pedagang, kendaraan bermotor, hingga transportasi tradisional. Kondisi tersebut kerap memicu kemacetan, polusi udara, dan berkurangnya kenyamanan pengunjung. Oleh karena itu, konsep kawasan bebas kendaraan bermotor di koridor utama Malioboro dinilai menjadi solusi jangka panjang dalam meningkatkan kualitas kawasan wisata.
Untuk mendukung penerapan kebijakan tersebut, Pemda DIY menyiapkan pemasangan 20 portal yang akan ditempatkan di 13 ruas jalan akses menuju koridor utama Malioboro. Portal tersebut akan menggunakan sistem buka-tutup sesuai jadwal yang telah ditentukan sehingga pengaturan lalu lintas dapat berjalan lebih efektif tanpa mengganggu aktivitas masyarakat.
Meski kendaraan pribadi dan kendaraan umum nantinya dibatasi memasuki kawasan pedestrian, pemerintah tetap memberikan akses khusus bagi kendaraan darurat seperti ambulans, mobil pemadam kebakaran, dan kendaraan kepolisian. Selain itu, aktivitas bongkar muat barang milik pelaku usaha tetap diperbolehkan pada jam-jam tertentu agar roda perekonomian di kawasan Malioboro tetap berjalan dengan baik.
Kebijakan ini juga diharapkan mampu mengurangi kepadatan lalu lintas dan menekan emisi gas buang kendaraan bermotor. Dengan kualitas udara yang lebih baik, wisatawan dapat menikmati suasana Malioboro dengan berjalan kaki secara lebih nyaman sambil menikmati berbagai pertunjukan seni jalanan, kuliner khas Yogyakarta, hingga pusat oleh-oleh yang berjajar di sepanjang kawasan tersebut.
Transformasi Malioboro juga sejalan dengan pengembangan transportasi ramah lingkungan. Kehadiran becak listrik menjadi salah satu alternatif mobilitas yang tetap mempertahankan identitas budaya lokal sekaligus mendukung pengurangan emisi karbon. Langkah ini menunjukkan komitmen Pemda DIY dalam mendorong konsep pariwisata berkelanjutan.
Selain memberikan manfaat lingkungan, kawasan pedestrian diyakini mampu meningkatkan dwelling time atau lama kunjungan wisatawan. Semakin lama wisatawan berada di Malioboro, semakin besar pula peluang mereka berbelanja di toko, pusat kerajinan, restoran, maupun pelaku UMKM. Dampaknya diharapkan mampu meningkatkan pendapatan para pedagang sekaligus memperkuat ekonomi kawasan wisata yang menjadi ikon Kota Yogyakarta tersebut.