Situs Payak Gunungkidul: Jejak Petirtaan Hindu Abad ke-9 yang Tersembunyi di Tengah Persawahan

Situs Payak Gunungkidul
Sumber :
  • IG/kalamaksara

Gunungkidul, WISATA – Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, tidak hanya dikenal karena pantai-pantainya yang memukau, tetapi juga menyimpan berbagai peninggalan sejarah yang menjadi saksi perkembangan peradaban masa lampau. Salah satu warisan budaya yang menarik perhatian para peneliti adalah Situs Payak, sebuah petirtaan kuno bercorak Hindu yang diperkirakan berasal dari abad ke-9 Masehi.

img_title Sejarah Pondok Pesantren Tambakberas Jombang, Dari Markas Perang Diponegoro hingga Tuan Rumah Muktamar Ke-35 NU

Situs Payak berada di wilayah Kalurahan Logandeng, Kapanewon Playen, tidak jauh dari jalur utama Jalan Yogyakarta–Wonosari. Lokasinya yang berada di tengah kawasan persawahan membuat keberadaan situs ini terkesan tersembunyi. Meski demikian, nilai sejarah dan arkeologinya sangat penting karena memberikan gambaran mengenai kehidupan masyarakat Jawa kuno pada masa Kerajaan Mataram Kuno.

Petirtaan merupakan bangunan suci yang berfungsi sebagai tempat pemandian ritual dan sarana penyucian diri dalam tradisi Hindu. Situs Payak tersusun dari batu putih atau batu tuff yang banyak digunakan pada bangunan keagamaan Jawa Kuno. Keunikan situs ini terletak pada posisinya yang berada sekitar enam meter di bawah permukaan tanah saat ini. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa selama berabad-abad kawasan di sekitarnya mengalami proses sedimentasi dan perubahan bentang alam.

img_title Pindang Tetel Pekalongan, Rawon Khas Pantura yang Kaya Rempah dan Sarat Sejarah

Keberadaan Situs Payak mulai menarik perhatian setelah ditemukan oleh masyarakat sekitar pada sekitar tahun 1970. Temuan tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan penelitian dan ekskavasi oleh para arkeolog pada dekade 1980-an. Dari hasil penggalian ditemukan berbagai artefak yang memperkuat dugaan bahwa situs ini merupakan bangunan suci penting pada masanya.

Salah satu temuan yang paling berharga adalah kotak peripih, yakni wadah ritual yang lazim ditemukan pada bangunan keagamaan Hindu-Buddha. Kotak tersebut memiliki 17 lubang dan berisi peripih berupa lempengan emas serta perak yang diyakini digunakan sebagai bagian dari upacara pendirian bangunan suci. Selain itu, para peneliti juga menemukan sejumlah pecahan gerabah yang memberikan informasi mengenai aktivitas masyarakat pada masa itu.

img_title Menemukan Paradoks Cantik Pantai Ngrawe: Eksplorasi Keunikan Pantai Berkonsep Taman Hijau Eropa di Pesisir Gunungkidul

Menurut para arkeolog, keberadaan peripih menjadi petunjuk kuat bahwa Situs Payak bukan sekadar bangunan biasa, melainkan memiliki fungsi religius yang penting. Tradisi penanaman peripih merupakan bagian dari ritual sakral yang umum dilakukan dalam pembangunan candi atau petirtaan pada masa Mataram Kuno.

Halaman Selanjutnya
img_title