Menemukan Sisi Mistis dan Kedamaian Hakiki di Pulau Ko Tarutao Thailand yang Jarang Terjamah
- catalystplanet.com
Malang, WISATA – Destinasi wisata alternatif Ko Tarutao di Thailand menawarkan liburan anti-mainstream lewat perpaduan alam liar yang asri dan jejak sejarah penjara terasing.
Menemukan tempat liburan yang benar-benar sepi dan tenang di kawasan Asia Tenggara saat ini rasanya memang semakin sulit dari hari ke hari. Sebagian besar tempat pelarian tropis yang dulunya damai, kini mulai padat oleh pembangunan resor besar-besaran dan kerumunan wisatawan komersial yang bising. Namun, cerita akan berubah total jika Anda sedikit menggeser rute perjalanan ke arah utara Pulau Koh Lipe, Thailand. Di sana, membentang sebuah pulau raksasa yang sunyi bernama Ko Tarutao, sebuah nama eksotis yang diambil dari bahasa Melayu kuno dengan arti pulau tua atau purba.
Sebagai pulau terbesar di dalam kawasan Tarutao National Marine Park, tempat ini sengaja dijaga agar tidak pernah dibuka untuk pembangunan komersial skala besar. Anda tidak akan menemukan bar pantai yang gemerlap atau jaringan hotel mewah yang merusak pemandangan garis pantainya yang perawan. Pemerintah Thailand secara ketat membatasi pembangunan infrastruktur demi melindungi ekosistem lokal yang berharga. Kebijakan ramah lingkungan ini memastikan bahwa akar sejarah yang unik serta kemurnian alam pulau tersebut tidak akan hanyut tergerus oleh arus modernisasi pariwisata masa kini. Hal inilah yang menjadikan agenda wisata ke tempat ini terasa begitu magis dan sangat personal bagi para petualang sejati.
Menelusuri Sisi Sejarah Kelam Sang Pulau Purba
Apa yang benar-benar membedakan lokasi wisata sejarah ini dengan destinasi tropis pada umumnya adalah latar belakang sejarahnya yang sangat kuat dan cenderung misterius. Jauh ke belakang pada akhir tahun 1930-an, Departemen Pemasyarakatan Thailand mengubah tempat terisolasi ini menjadi sebuah pulau penjara bagi para tahanan politik dan kriminal. Penjara ini memanfaatkan isolasi alami pulau yang terletak puluhan kilometer dari daratan utama, sehingga pelarian menjadi hal yang mustahil. Catatan sejarah dari era tersebut menunjukkan bahwa lebih dari tiga ribu narapidana akhirnya dikirim untuk menjalani masa pengasingan di tengah laut ini.