Grebeg Suro di Lumajang, Jawa Timur, Arak Gunungan Hasil Bumi Jaga Tradisi Puluhan Tahun
- infopublik.id
Lumajang, WISATA – Masyarakat Desa Sumbermujur, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, kembali menggelar tradisi Grebeg Suro.
Tradisi ini sebagai bentuk rasa syukur atas keberadaan mata air yang selama ini menjadi sumber kehidupan warga.
Tradisi yang digelar setiap 1 Suro dalam penanggalan Jawa ini, berlangsung di kawasan mata air Desa Sumbermujur (16/6/2026).
Puluhan warga mengarak gunungan hasil bumi menuju lokasi mata air yang menjadi penopang kebutuhan masyarakat di kawasan kaki Gunung Semeru.
Gunungan yang terdiri atas jagung, padi, sayuran, buah-buahan, dan berbagai hasil pertanian lainnya, menjadi simbol kemakmuran sekaligus ungkapan syukur atas hasil bumi yang diperoleh masyarakat sepanjang tahun.
Bagi warga Sumbermujur, mata air tidak hanya dipandang sebagai sumber daya alam, tetapi juga bagian penting dari kehidupan yang harus dijaga keberlanjutannya.
Aliran air tersebut selama ini menghidupi lahan pertanian, memenuhi kebutuhan rumah tangga, serta menopang aktivitas masyarakat.
Desa Sumbermujur, juga dikenal memiliki kawasan hutan bambu yang berperan penting dalam menjaga keberlangsungan sumber-sumber air di wilayah tersebut.
Kawasan hijau tersebut menjadi salah satu ikon desa sekaligus daya tarik wisata yang mendukung pelestarian lingkungan.
Prosesi Grebeg Suro mencapai puncaknya saat arak-arakan tiba di kawasan mata air.
Di lokasi tersebut, warga memanjatkan doa bersama sebagai bentuk rasa syukur atas limpahan air yang terus mengalir sepanjang tahun.
Salah satu rangkaian tradisi yang tetap dipertahankan adalah prosesi memendam kepala sapi di sekitar kawasan mata air.
Masyarakat memaknai prosesi tersebut sebagai simbol penghormatan dan ungkapan terima kasih atas anugerah alam yang telah memberikan kehidupan bagi warga.
Kepala Desa Sumbermujur, Yayuk Sri Rahayu mengatakan, Grebeg Suro merupakan warisan budaya yang terus dijaga sebagai sarana memperkuat kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga lingkungan dan sumber air.
“Tradisi ini bukan hanya tentang budaya, tetapi juga tentang kesadaran bersama untuk menjaga sumber kehidupan. Melalui Grebeg Suro, masyarakat diajak untuk terus merawat lingkungan dan menghargai warisan yang telah dijaga oleh para leluhur,” ujar Yayuk.
Menurutnya, tradisi tersebut juga menjadi media edukasi bagi generasi muda agar tetap memahami pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia dan alam.
Ini terlihat dari keterlibatan berbagai unsur masyarakat, mulai dari anak-anak, pemuda, tokoh masyarakat, kelompok seni, hingga para sesepuh desa yang bersama-sama menyukseskan rangkaian kegiatan.
Di tengah tantangan perubahan lingkungan dan meningkatnya ancaman terhadap sumber daya air, Grebeg Suro menjadi pengingat bahwa pelestarian alam merupakan tanggung jawab bersama yang harus diwariskan kepada generasi berikutnya.
Melalui tradisi tersebut, masyarakat Sumbermujur tidak hanya melestarikan budaya leluhur, tetapi juga memperkuat komitmen menjaga sumber air dan lingkungan sebagai fondasi kehidupan yang berkelanjutan.
(Sumber: infopublik.id)