Mengenal Owa Kalawat di Keling Kumang Forest, Primata Lincah Penghuni Hutan Kalimantan yang Memikat Wisatawan
- IG/keling_kumang_forest
Kabupaten Sekadau, WISATA – Kalimantan Barat menyimpan banyak destinasi wisata yang memadukan keindahan alam dengan edukasi konservasi. Salah satu yang menarik untuk dikunjungi adalah Keling Kumang Forest, kawasan wisata yang menjadi ruang belajar tentang pentingnya menjaga keanekaragaman hayati Borneo. Di tempat inilah wisatawan dapat mengenal lebih dekat owa kalawat atau kelempiau, primata endemik yang dikenal sebagai "penyanyi hutan" Kalimantan.
Owa kalawat merupakan satwa yang aktif pada siang hari atau bersifat diurnal. Hewan ini hidup di hutan hujan tropis dan menghabiskan sebagian besar waktunya di atas pepohonan. Salah satu ciri khasnya adalah lengan yang sangat panjang dan kuat, memungkinkan mereka berayun dengan lincah dari satu dahan ke dahan lainnya. Kelincahan tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung ke kawasan konservasi Keling Kumang Forest.
Selain gerakannya yang atraktif, kelempiau juga memiliki kehidupan sosial yang unik. Primata ini hidup dalam pasangan monogami bersama anak-anaknya. Ikatan keluarga mereka sangat kuat. Ketika merasa terancam, owa kalawat akan mengeluarkan suara nyaring dan panjang sebagai bentuk komunikasi sekaligus perlindungan terhadap anggota kelompoknya.
Suara khas itulah yang membuat kelempiau dijuluki sebagai penyanyi hutan. Dahulu, suara mereka kerap terdengar di berbagai kawasan hutan Kalimantan. Namun, seiring berkurangnya habitat alami akibat alih fungsi lahan, keberadaan satwa ini semakin jarang dijumpai di alam bebas.
Keling Kumang Forest hadir sebagai salah satu tempat yang memperkenalkan kembali pentingnya pelestarian satwa liar kepada masyarakat. Salah satu penghuni yang cukup dikenal adalah seekor owa bernama Joji. Kehadirannya menjadi simbol bahwa konservasi tidak hanya tentang melindungi satwa, tetapi juga menjaga hubungan harmonis antara manusia, budaya, dan alam.
Buah-buahan menjadi makanan utama owa kalawat. Mereka juga sesekali mengonsumsi daun muda dan bagian tumbuhan tertentu. Sementara itu, pola reproduksi owa kalawat belum banyak diketahui secara rinci. Para peneliti memperkirakan siklus berkembang biaknya tidak jauh berbeda dengan spesies owa lainnya, yakni melahirkan satu anak dalam satu periode kelahiran dengan masa pengasuhan yang cukup panjang.