Menatap Kemegahan Istana Air Kuno di Cirebon yang Penuh Makna Spiritual

Kolam Kaputren, Komplek Guha Sunyaragi Cirebon
Sumber :
  • Indonesiatravel

Cirebon, WISATA - Kota Cirebon selalu menyimpan pesona sejarah yang tidak pernah habis untuk dikupas. Salah satu destinasi yang menyimpan misteri sekaligus keindahan arsitektur yang memesona adalah Taman Sari Guha Sunyaragi. Destinasi ini sering kali keliru disebut sebagai goa alam biasa. Padahal, kompleks bangunan unik ini merupakan mahakarya buatan manusia yang sarat akan nilai sejarah dan spiritual.

img_title Rahasia Dapur Oven Tanah Kuno Pekunden: Menyingkap Kelezatan Nopia Legendaris di Jantung Kabupaten Banyumas

Kearifan Lokal dalam Balutan Konsep Muslim

Nama sebenarnya dari situs ini adalah Taman Kaputren Panyepi Ing Raga. Nama tersebut memiliki arti tempat bermain keluarga Kesultanan Cirebon yang dibarengi dengan aktivitas tawasul. Pembangunan kompleks ini sepenuhnya mengusung kearifan lokal dengan konsep muslim yang sangat kental. Istilah panyepi ing raga sendiri bermakna sama dengan bertapa atau menyepi untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

img_title Menyelami Filosofi Spiritual Kuno di Balik Keindahan Lanskap Sistem Subak Bali

Secara definisi, tempat ini disebut guha yang berarti bangunan buatan manusia, bukan goa yang terbentuk secara alami oleh alam. Berdasarkan catatan sejarah Pangeran Sulaeman Sulendraningrat, kompleks ini dibangun pada masa Pangeran Aria Cirebon sekitar tahun 1703. Namun, pitutur lisan berdasarkan candra sangkala kuno mengindikasikan bahwa situs ini sebenarnya sudah ada sejak tahun 1596.

Sistem Tata Air Tirta Yasa yang Genius

img_title Inovasi Teknologi Tepat Guna: Sistem Air Minum Otomatis Sapi Perah Bebas Listrik Buatan Peneliti UNDIP di Boyolali

Kompleks ini dibangun sebagai taman pengganti setelah Taman Kaputren Nur Giri Sapta Rengga berubah fungsi menjadi pemakaman. Pemilihan lokasi di tepi Segara Amparan Jati digagas oleh Pangeran Kertasari. Pembangunannya kemudian dipimpin oleh arsitek keturunan Demak bernama Raden Sepat. Ia menerapkan konsep tirta yasa atau sistem tata guha air yang sangat canggih pada zamannya.

Fungsi air di tempat ini bukan sekadar hiasan semata. Air berfungsi sebagai sistem pengamanan karena dahulu area ini hanya bisa diakses menggunakan rakit atau perahu kecil. Selain itu, aliran air yang mengitari seluruh bangunan berfungsi sebagai pendingin ruangan alami. Air bersih yang mengalir juga selalu siap digunakan untuk berwudhu bagi keluarga sultan yang sedang melakukan ibadah menyepi.

Menjelajahi Bagian-Bagian Kompleks Guha

Memasuki zona inti, pengunjung akan disambut oleh Alun-alun Pandekemasan yang dahulu menjadi tempat latihan perang para prajurit kesultanan. Di dekatnya, terdapat Kolam Simanyang yang dulunya dipenuhi oleh bunga teratai putih indah asal negeri China. Ada pula Guha Simanyang yang berfungsi sebagai pos pemeriksaan utama sebelum memasuki area khusus keluarga kerajaan ini.

Halaman Selanjutnya
img_title