Tanda Kesetiaan dari Roti Buaya....

Roti Buaya, Lambang Kesetiaan Pasangan dan Cinta yang Teguh
Sumber :
  • beritajakarta.id

img_title Mengapa Kondisi Paspor Sangat Menentukan Kelancaran Liburan Anda ke Luar Negeri

Saat musim nikah, bisa sampai 30 pasang per hari. 
img_title Misteri Astronomi dan Wisata Seni di Balik Lukisan The Evening Star Karya Caspar David Friedrich


img_title Misteri Baru Pasukan Terakota Kaisar Qin yang Melibatkan Pekerja Wanita dan Anak-Anak
Namun bila sepi, biasanya maksimal hanya sampai enam pasang.

Sepasang Roti Buaya lengkap dengan dua 'anaknya', dibanderol dengan harga mulai Rp400 ribu hingga Rp700 ribu, tergantung ukuran dan isiannya. 

Variannya pun beragam, ada coklat, keju, srikaya hingga blueberry.

Lebih dari satu dekade berkecimpung dalam bisnis ini, Mira merasa bangga bisa ikut melestarikan budaya Betawi melalui Roti Buaya.

"Selama masih ada yang menikah, Roti Buaya nggak akan pernah hilang," ungkap Mira seraya tersenyum.

Sementara itu, Beki (36), salah seorang karyawan Mira menambahkan, membuat Roti Buaya butuh ketelatenan tinggi. 

Prosesnya memakan waktu empat sampai enam jam.

"Dari bikin adonan sampai dihias," tuturnya sambil menepuk lembut adonan di atas nampan seng.

Setelah dibentuk menyerupai buaya, bagian perut diisi coklat atau keju sesuai permintaan. 

Lalu difermentasi sekitar 20 menit hingga mengembang. Sisik-sisik buaya dibentuk dengan gunting dan matanya dipasangi blueberry. 

Kemudian dipanggang dalam oven bersuhu 180–220 derajat celcius, roti dioles mentega agar mengilap dan tampak menggoda.

"Setelah dingin, baru kami hias dan bungkus rapi," ujarnya.

Di balik kesuksesannya, Mira mengaku motivasi awalnya sederhana karena kebutuhan hidup. 

Namun, dari keuletan dan semangat pantang menyerah, usahanya justru menjadi warisan budaya yang hidup.

Kini Jimboy Bakery tak hanya memproduksi Roti Buaya, tapi juga aneka panganan Betawi seperti Dodol, Biji Ketapang, Roti Gambang, Geplak, Selendang Mayang hingga Bir Pletok. 

Tak ketinggalan, ia juga memproduksi roti khas Eropa untuk memenuhi selera anak muda masa kini.

Menurut Ketua Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB), Beki Mardani, Roti Buaya memang selalu melekat di saat pesta pernikahan masyarakat Betawi. 

Sebab, di dalamnya terkandung filosofi bahwa buaya secara zoologi merupakan simbol binatang yang paling setia terhadap pasangannya. 

Dalam hidupnya hanya menikah sekali dan jika salah satu pasangannya mati, maka tidak mencari jodoh lagi.

"Roti Buaya ini biasanya diarak saat acara pernikahan bersama barang seserahan lainnya. Sampai saat ini masih dipertahankan tradisi ini secara turun-temurun di seluruh wilayah Jakarta," imbuhnya.
Halaman Selanjutnya
img_title