Masjid Raya Baiturrahman, Ikon Wisata Religi Aceh yang Mendunia
- Indonesia travel
Banda Aceh, WISATA - Ketika berbicara tentang Baiturrahman wisata religi, bayangan tentang bangunan megah berwarna putih dengan kubah hitam yang anggun segera muncul di benak banyak orang. Masjid Raya Baiturrahman bukan sekadar tempat ibadah. Ia adalah simbol keteguhan, sejarah panjang peradaban Islam di Aceh, sekaligus magnet utama pariwisata di ujung barat Indonesia.
Terletak di Jalan Moh. Jam No.1, Kelurahan Baiturrahman, Kota Banda Aceh, Provinsi Aceh, masjid ini menjadi jantung spiritual sekaligus ikon visual kota. Tidak heran jika Masjid Raya Baiturrahman pernah meraih penghargaan Anugerah Pesona Indonesia (API) 2018 sebagai destinasi Most Popular Halal Tourism. Pengakuan tersebut menegaskan posisinya sebagai destinasi unggulan dalam peta pariwisata halal nasional.
Jejak Sejarah yang Mengakar Kuat
Sejarah masjid ini bermula pada tahun 1612 Masehi pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda, salah satu raja terbesar dalam sejarah Kesultanan Aceh. Pembangunan kemudian dilanjutkan dan disempurnakan hingga tahun 1881 pada masa Sultan Muhammad Daud Syah, sultan terakhir Aceh.
Aceh sendiri dikenal sebagai Serambi Mekkah, sebuah julukan yang mencerminkan kuatnya pengaruh Islam sejak abad ke-13. Dalam konteks ini, masjid bukan hanya pusat ibadah, melainkan pusat pendidikan, diplomasi, dan peradaban. Menurut data Pemerintah Kota Banda Aceh dan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, Masjid Raya Baiturrahman mampu menampung hingga 24.400 jamaah. Kapasitas besar ini menjadikannya salah satu masjid termegah di Asia Tenggara.
Mengunjungi masjid ini seperti membuka lembaran sejarah panjang tentang perlawanan, kolonialisme, hingga kebangkitan Aceh modern. Bangunannya menjadi saksi bisu perjalanan zaman yang tidak selalu mudah.
Arsitektur Megah Bernuansa Global
Salah satu daya tarik utama masjid ini adalah perpaduan gaya arsitektur lintas budaya. Gerbangnya terinspirasi dari arsitektur Belanda, berandanya bernuansa Spanyol, sementara pintu-pintunya mengambil sentuhan arsitektur India. Kubah hitam khas bergaya Mughal berpadu harmonis dengan dinding marmer putih yang elegan.
Lantai marmer putih di ruang utama menciptakan kesan luas dan bersih, memantulkan cahaya alami sehingga ruangan terasa sejuk dan lapang. Saat cahaya sore menyentuh permukaan marmer, suasana sakral terasa begitu damai.