PBTY XXI 2026 Hadir di Kampoeng Ketandan Yogyakarta, Rayakan Harmoni Tionghoa–Nusantara
- visitingjogja.jogjaprov.go.id
Yogyakarta, WISATA - Yogyakarta selalu punya cara istimewa untuk merawat ingatan kolektifnya. Di antara lorong-lorong bersejarah Malioboro, Kampoeng Ketandan kembali bersolek menyambut Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) XXI 2026. Perhelatan tahunan ini dijadwalkan berlangsung pada Rabu hingga Selasa, 25 Februari–3 Maret 2026, mulai pukul 17.00 hingga 22.00 WIB. Selama sepekan penuh, kawasan yang dikenal sebagai pecinan tua di Kota Gudeg ini akan berubah menjadi ruang temu budaya yang hangat, inklusif, dan penuh warna.
PBTY bukan sekadar festival. Ia adalah panggung perayaan akulturasi panjang antara budaya Tionghoa dan Nusantara yang telah terjalin selama ratusan tahun. Kampoeng Ketandan sendiri merupakan salah satu kawasan bersejarah yang menjadi saksi perjalanan komunitas Tionghoa di Yogyakarta sejak abad ke-19. Keberadaannya tak terpisahkan dari dinamika ekonomi dan sosial kota ini.
Kampoeng Ketandan, Jejak Sejarah di Jantung Kota
Secara geografis, Kampoeng Ketandan berada di sisi utara Jalan Malioboro, kawasan yang menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) DIY menjadi salah satu magnet utama kunjungan wisata di Yogyakarta. BPS mencatat, sebelum pandemi, Daerah Istimewa Yogyakarta menerima lebih dari 4 juta kunjungan wisatawan per tahun, dengan Malioboro sebagai destinasi favorit. Tren pemulihan pariwisata pascapandemi pun menunjukkan angka yang terus membaik, seiring meningkatnya mobilitas dan agenda budaya di ruang publik.
Ketandan tumbuh sebagai kawasan perdagangan yang dihuni komunitas Tionghoa sejak era kolonial. Arsitektur bangunan, kelenteng, hingga rumah-rumah tua bergaya peranakan menjadi penanda kuat identitas kawasan ini. Di sinilah PBTY menemukan rumahnya. Festival ini bukan hanya memamerkan kesenian, tetapi juga mempertegas narasi bahwa Yogyakarta adalah kota yang terbuka pada perjumpaan budaya.
Panggung Utama yang Meriah dan Penuh Makna
Setiap sore hingga malam, panggung utama PBTY XXI 2026 akan diisi beragam penampilan seni. Mulai dari tarian tradisional Tionghoa seperti barongsai dan liong, pertunjukan musik tradisional, hingga kolaborasi dengan seni Nusantara. Akulturasi menjadi benang merah yang terasa kuat. Tak jarang, penonton akan menyaksikan harmoni antara gamelan Jawa dengan alat musik khas Tiongkok dalam satu pertunjukan.