Cap Go Meh Singkawang, Harmoni Budaya dan Parade Tatung yang Mendunia
- Kemenpar
Singkawang, WISATA - Singkawang kerap dijuluki sebagai Kota Seribu Kelenteng. Julukan ini bukan tanpa alasan. Kota di pesisir Kalimantan Barat tersebut dikenal sebagai salah satu pusat kebudayaan Tionghoa paling hidup di Indonesia. Setiap kali perayaan Tahun Baru Imlek dan Cap Go Meh tiba, Singkawang seolah bertransformasi menjadi panggung budaya raksasa yang menyatukan tradisi, spiritualitas, dan pariwisata dalam satu perayaan akbar.
Berbeda dengan daerah lain, Cap Go Meh di Singkawang memiliki sentuhan lokal yang sangat khas. Di kota ini, budaya Tionghoa hidup berdampingan secara harmonis dengan tradisi Dayak dan Melayu. Perpaduan inilah yang membuat perayaan Cap Go Meh Singkawang bukan sekadar agenda budaya, tetapi juga magnet wisata nasional hingga internasional.
Wajah Budaya Singkawang yang Multietnis
Singkawang adalah contoh nyata kota multikultural yang tumbuh secara organik. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Kalimantan Barat, komposisi penduduk Singkawang terdiri dari berbagai etnis, dengan etnis Tionghoa sebagai salah satu kelompok terbesar, disusul Dayak dan Melayu. Keberagaman ini tercermin jelas dalam perayaan Cap Go Meh yang digelar setiap tahun.
Selama rangkaian Imlek hingga Cap Go Meh, kota ini dipenuhi berbagai agenda budaya. Pawai lampion menerangi jalan-jalan utama kota, pentas kesenian Tionghoa digelar di berbagai sudut, kampung Tionghoa menjadi pusat wisata kuliner dan budaya, hingga ritual cuci jalan yang dipercaya sebagai bentuk penyucian dan penolak bala. Semua elemen ini berpadu menciptakan atmosfer perayaan yang hangat dan meriah.
Parade Tatung, Ikon Cap Go Meh Singkawang
Dari sekian banyak rangkaian acara, parade Tatung menjadi atraksi yang paling ditunggu. Pawai Tatung digelar tepat 15 hari setelah Tahun Baru Imlek, bertepatan dengan Cap Go Meh. Ribuan orang, baik warga lokal maupun wisatawan, tumpah ruah di sepanjang rute pawai untuk menyaksikan prosesi ini.
Tatung sendiri merupakan hasil peleburan budaya Tionghoa dan Dayak. Dalam bahasa Hakka, tatung merujuk pada seseorang yang dirasuki roh leluhur, dewa, atau kekuatan supranatural. Dalam kondisi trance, para Tatung melakukan berbagai atraksi ekstrem seperti menusuk tubuh dengan benda tajam, berjalan di atas pecahan kaca, hingga membawa senjata tradisional tanpa menunjukkan rasa sakit.