Dilema Botol Isi Ulang di Hotel: Ramah Lingkungan atau Sarang Bakteri?
- peeryhotel.com
Malang, WISATA – Banyak hotel kelas atas kini mempromosikan penggunaan wadah toilet isi ulang sebagai langkah besar menuju keberlanjutan. Secara statistik, langkah ini sangat masuk akal. Menurut data dari Harp Renewables, industri perhotelan di Amerika Serikat saja menghasilkan hampir 289.700 ton limbah setiap tahunnya, di mana botol plastik sekali pakai menyumbang ribuan pon dari total limbah tersebut. Tren ini juga didukung oleh keinginan pasar; sekitar 75% pelancong global mencari akomodasi dengan fasilitas ramah lingkungan, bahkan 43% di antaranya bersedia membayar lebih demi gaya hidup hijau.
Namun, di balik citra positif 'penyelamatan bumi' tersebut, tersimpan risiko kesehatan yang jarang disadari tamu. Sebuah studi yang dilakukan oleh para peneliti dari University of Arizona untuk organisasi 'Clean the World' mengungkapkan fakta mengejutkan mengenai potensi kontaminasi bakteri pada dispenser isi ulang di kamar hotel.
Penelitian ini mengambil 82 sampel dari berbagai produk seperti sampo, kondisioner, sabun mandi, sabun tangan dan losion di 40 kamar dari 20 hotel berbeda. Hasilnya? 100 persen sampel ditemukan mengandung tingkat kontaminasi bakteri tertentu.
Lebih mengkhawatirkan lagi, 63 dari 82 botol tersebut menunjukkan tingkat bakteri yang melebihi 1.000 colony-forming units (CFU) per gram produk. Bahkan, 40 sampel di antaranya melampaui angka 10.000 CFU. Sebagai perbandingan, 'Center for Food Safety and Applied Nutrition' menetapkan bahwa produk yang tidak digunakan di area mata tidak boleh memiliki jumlah bakteri lebih dari 1.000 CFU. Menariknya, masalah ini tidak hanya ditemukan di hotel murah, karena seluruh sampel diambil dari hotel berbintang tiga dan empat yang memiliki standar kebersihan tinggi.
Penyebab utama kontaminasi ini diduga kuat berasal dari proses pengisian ulang yang tidak higienis. Alih-alih mencuci bersih botol sebelum diisi kembali, staf hotel sering kali hanya menambah cairan baru ke atas sisa produk yang masih ada di dalam wadah (topping up). Praktik ini secara langsung melanggar pedoman WHO dan CDC yang menyarankan agar tidak menambahkan sabun ke dalam wadah yang masih berisi sebagian.
Sekali bakteri berkoloni di dalam dispenser, sangat sulit untuk benar-benar menghilangkannya. Studi dari Montana State University bahkan menunjukkan bahwa jumlah bakteri dalam dispenser sabun curah dapat kembali ke tingkat terkontaminasi hanya dalam waktu dua minggu setelah dibersihkan, terlepas dari prosedur pencucian yang digunakan.