Villa Eucalyptus Coban Rondo: Forest Bathing dan JOMO di Jantung Hutan Malang
- Handoko/Istimewa
Temukan ketenangan lewat forest bathing di Villa Eucalyptus Coban Rondo, destinasi wellness yang memadukan alam, sejarah, dan kenyamanan modern.
Malang, WISATA - Ada momen ketika tubuh dan pikiran meminta jeda, sebuah ruang untuk bernapas jauh dari layar ponsel, rapat yang tak ada habisnya, dan riuh kota yang terus berlari. Hari itu, saya bersama tim DGN akhirnya menjejakkan kaki di Coban Rondo Resort, Malang, tepatnya di Villa Eucalyptus—sebuah destinasi yang memadukan nuansa kolonial, kenyamanan modern, dan kedamaian hutan pinus.
Menyapa Alam dengan Aroma Pinus
Begitu turun dari mobil, aroma tanah basah bercampur dengan wangi khas pepohonan pinus langsung menyeruak. Udara dingin menampar kulit wajah saya dengan lembut, membuat paru-paru terasa lebih lega. Suara gemericik air dari kejauhan berpadu dengan nyanyian burung yang riang menyambut pagi.
Menelusuri Keindahan Coban Rondo
- Handoko/Istimewa
“Selamat datang di Eucalyptus,” sapa Mas Sugeng, Asisten Manajer Ekowisata Coban Rondo, sambil tersenyum hangat. Ia kemudian mengajak kami berkeliling, bercerita tentang transformasi destinasi ini yang kini dikelola oleh Econique, anak usaha Perum Perhutani. “Kami ingin orang yang datang ke sini tidak sekadar berlibur, tapi pulang dengan jiwa yang lebih segar,” katanya.
Jejak Kolonial yang Hidup Kembali
Villa Eucalyptus, dulunya dikenal sebagai Villa Bimo-Sutji, berdiri gagah dengan arsitektur kolonial Belanda. Dari luar, bangunan bercat putih itu terlihat klasik, sementara di dalamnya sudah diperbarui dengan sentuhan modern. Balkon di lantai dua menjadi favorit saya—dari sana, mata bisa menyapu luas hijaunya hutan pinus yang seakan tak berujung.
Saya duduk di kursi kayu di balkon, menyeruput kopi panas. Rasanya tak perlu membuka ponsel atau mencari sinyal. Inilah momen JOMO (Joy of Missing Out) yang sejati: kehilangan dunia maya untuk menemukan dunia nyata.
Menelusuri Keindahan Coban Rondo
- Handoko/Istimewa
Dialog dengan Alam
Sore itu, saya berjalan santai di sekitar taman bunga hortensia yang berwarna-warni. Hembusan angin membuat bunga-bunga bergoyang pelan, seakan ikut menari menyapa tamu. “Di sini enaknya jalan pelan saja, biar semua indra bisa bekerja,” ujar Mas Sugeng sambil tersenyum, ketika saya terlalu sibuk memotret. Saya menurunkan kamera, mencoba benar-benar hadir. Suara serangga, bau harum bunga, dan sentuhan embun di ujung daun membuat saya sadar: beginilah rasanya forest bathing—mandi dalam suasana hutan.