Cerita di Balik Gambar Kaleng Biskuit Khong Guan yang Tidak Ada Sosok Ayah
- IG/khongguan_biscuits
Malang, WISATA – Kaleng biskuit Khong Guan telah menjadi ikon yang melekat di hati masyarakat Indonesia, terutama saat momen Lebaran. Gambar seorang ibu dan dua anaknya yang sedang menikmati teh dan biskuit di meja makan menjadi simbol kebersamaan keluarga. Namun, ada satu hal yang sering dipertanyakan: mengapa tidak ada sosok ayah dalam gambar tersebut?
Biskuit Khong Guan yang mulai diproduksi pada tahun 1971 tersebut terus tumbuh besar. Bahkan, disebut-sebut menguasai 70 persen pangsa pasar biskuit di Indonesia. Produk-produk mereka menjadi makanan khas yang banyak disajikan oleh masyarakat Indonesia saat lebaran.
Gambar di kaleng Khong Guan dibuat oleh Bernardus Prasodjo, seorang pelukis asal Indonesia. Proses pembuatan gambar ini dimulai pada tahun 1970-an ketika Bernardus menerima pesanan dari sebuah perusahaan separasi film. Ia menggunakan sketsa dari potongan gambar di majalah sebagai inspirasi. Bernardus mengikuti arahan dari pihak pemesan untuk menciptakan ilustrasi yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
Ketidakhadiran sosok ayah dalam gambar tersebut bukanlah tanpa alasan. Bernardus menjelaskan bahwa gambar ini dirancang untuk menarik perhatian ibu rumah tangga, yang dianggap sebagai pengambil keputusan utama dalam membeli produk makanan. Dengan menonjolkan sosok ibu dan anak-anak, gambar ini ingin menyampaikan pesan tentang kebersamaan keluarga yang hangat.
Gambar di kaleng Khong Guan tidak hanya menjadi elemen desain, tetapi juga simbol budaya yang mengingatkan kita akan pentingnya kebersamaan keluarga. Meski sederhana, karya Bernardus ini telah menjadi bagian dari kenangan banyak orang di Indonesia.
Untuk diketahui, Bernardus Prasodjo lahir pada 25 Januari 1945 di Salatiga, Indonesia. Ia dikenal sebagai pelukis berbagai kemasan produk makanan, termasuk Khong Guan, Monde, dan Nissin Wafer. Bernardus sempat kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB), namun tidak menyelesaikan studinya karena sibuk menerima pesanan ilustrasi. Selain menjadi pelukis, ia juga pernah mengajar di LPKT Kompas sebagai dosen Tipografi dan Digital Studio. Kini, Bernardus lebih fokus pada pengajaran teknik penyembuhan prana.