Berkat Cahaya Surya, Mahasiswa UNDIP Bantu Petani Cabai Temanggung Usir Hama Tanpa Pestisida
- UNDIP.ac.id
Temanggung, WISATA - Di lereng perbukitan Kecamatan Bansari, Kabupaten Temanggung, Desa Campuranom menyimpan potensi yang sesungguhnya begitu menjanjikan. Tanahnya subur, panoramanya memesona, dan warganya hidup dari denyut pertanian yang telah diwariskan turun-temurun. Namun di balik keindahan itu, para petani setempat masih bergulat dengan sejumlah persoalan klasik, mulai dari serangan hama, keterbatasan akses listrik di lahan, pengelolaan biomassa dan sampah, hingga nilai tambah produk pertanian yang belum optimal.
Menjawab tantangan tersebut, sebanyak 30 mahasiswa Universitas Diponegoro (UNDIP) yang tergabung dalam KKN-IDBU Tim 21 turun langsung mendampingi Pemerintah Desa Campuranom. Bukan sekadar hadir dalam waktu singkat, mereka menyusun sebuah dokumen besar bernama Masterplan Desa Campuranom 2027–2034, sebuah peta jalan yang mengintegrasikan pertanian regeneratif, pemanfaatan sumber daya secara sirkular, keberlanjutan lingkungan, dan penerapan teknologi tepat guna.
Alat Pengusir Hama yang Bekerja Sendiri di Bawah Terik Matahari
Salah satu buah karya paling mencolok dari program KKN ini adalah prototipe smart light trap bertenaga surya, sebuah inovasi yang menjadi portofolio awal atau "tahun nol" dari penerapan konsep regeneratif, sirkular, dan berkelanjutan di desa tersebut. Berbeda dari perangkap cahaya konvensional yang sudah lama dikenal petani, alat rancangan mahasiswa UNDIP ini dibekali sejumlah kecerdasan tambahan.
Inovasi pertama terletak pada sistem solar tracker, yang membuat panel surya mampu menyesuaikan posisinya mengikuti arah datangnya cahaya matahari sepanjang hari. Dengan begitu, penyerapan energi menjadi jauh lebih optimal, sehingga alat dapat terus bekerja tanpa bergantung pada sumber listrik dari luar lahan pertanian, sesuatu yang selama ini menjadi kendala tersendiri bagi para petani di wilayah pegunungan seperti Campuranom.
Inovasi kedua tak kalah menarik, yaitu blower penghisap yang bekerja berbasis sensor. Begitu sensor mendeteksi keberadaan serangga di sekitar sumber cahaya, blower akan otomatis menyala dan mengarahkan hama langsung ke wadah penampungan. Petani pun tak perlu lagi mengawasi alat ini sepanjang waktu, karena seluruh proses penangkapan berjalan secara mandiri.
Yang membuat alat ini semakin praktis, tiangnya dapat disesuaikan dengan ketinggian tanaman, sehingga bisa dipakai untuk berbagai jenis komoditas maupun fase pertumbuhan tanaman. Strukturnya pun dibuat portabel, memudahkan perpindahan dari satu petak lahan ke lahan lain sesuai kebutuhan pengendalian hama di lapangan.