Menguak Kemampuan Penalaran Geometri Abstrak pada Primata dan Manusia

Babun Zaitun (Papio anubis)
Sumber :
  • naturephoto-cz.com/Milos Andera

Malang, WISATA – Penelitian terbaru membuktikan primata memiliki kemampuan penalaran geometri abstrak yang mirip manusia, mengaburkan batas kemampuan evolusi berpikir.

img_title OpenAI Hadirkan o3-mini: Siap Tantang DeepSeek dan Ubah Dunia AI!

Gagasan bahwa manusia adalah satu-satunya makhluk bumi yang dikaruniai kemampuan berpikir secara logis dan abstrak kini mulai mendapat tantangan serius dari dunia sains. Selama bertahun-tahun, banyak ilmuwan meyakini bahwa pemahaman mendalam tentang bentuk, sudut tegak lurus, garis sejajar, hingga simetri adalah pencapaian eksklusif spesies kita. Namun, sebuah eksperimen terbaru justru memperlihatkan bahwa primata nonmanusia ternyata memanfaatkan intuisi visual yang serupa saat berhadapan dengan konsep dasar bentuk dan ruang.

Kemampuan Penalaran Geometri yang Membuka Masalalu Evolusi

img_title Socrates dan Penggalian Kebenaran: Memahami Pentingnya Penalaran dan Diskusi

Studi mendalam yang diterbitkan dalam jurnal internasional Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) mengungkapkan fakta mengejutkan mengenai penalaran geometri. Peneliti dari Carnegie Mellon University menemukan adanya kemiripan strategi mental antara kera dan manusia saat diminta mengidentifikasi hubungan abstrak antarobjek. Temuan ini menegaskan bahwa fondasi kognitif untuk memahami ruang tidak muncul secara mendadak pada manusia, melainkan merupakan warisan evolusi yang jauh lebih tua dari yang kita perkirakan.

Para peneliti menguji delapan ekor kera, yang terdiri dari empat babun zaitun (Papio anubis) dan empat makaka rhesus (Macaca mulatta). Performa kera-kera cerdas ini kemudian dibandingkan dengan 58 anak usia prasekolah dari Amerika Serikat serta 79 orang dewasa dari suku Tsimané, masyarakat agraris di Bolivia yang tidak mengenyam pendidikan formal. Hasilnya menunjukkan bahwa meski manusia dewasa unggul dalam ketepatan, pola pemikiran kera dan anak-anak prasekolah saat mencocokkan bentuk abstrak memiliki tingkat kemiripan yang luar biasa.

img_title Balon Udara Wonosobo, Jawa Tengah akan Mewakili Indonesia di Festival Internasional Meksiko, 22–23 Agustus 2026

Permainan Mencocokkan Gambar yang Menguji Logika Spatial

Eksperimen dilakukan melalui serangkaian tes berbasis layar sentuh bernama match-to-sample task. Kera maupun peserta manusia diajak melihat satu bentuk sampel utama, misalnya sebuah bujur sangkar. Setelah menyentuhnya, mereka dihadapkan pada dua pilihan bentuk di sebelah kiri dan kanan untuk memilih mana yang paling serupa secara struktural.

Guna memastikan subjek tidak sekadar mencocokkan ukuran atau luas piksel semata, tim peneliti mengecilkan ukuran bentuk pilihan hingga setengah dari ukuran asli. Bahkan dalam sesi uji yang lebih sulit, bentuk pilihan diputar posisinya (rotation invariance). Kondisi ini memaksa otak peserta, baik manusia maupun kera, untuk mengenali bentuk intrinsik objek tanpa terpengaruh oleh arah orientasinya.

Halaman Selanjutnya
img_title