Penelitian BRIN Ungkap Potensi Anggrek Merpati sebagai Bahan Baku Produk Kesehatan Alami
- IG/the.treegarden
Jakarta, WISATA – Anggrek merpati (Dendrobium crumenatum) yang banyak tumbuh di berbagai kawasan konservasi Indonesia ternyata menyimpan potensi besar sebagai bahan baku produk kesehatan berbasis alami atau nutraseutikal. Temuan ini diungkap tim peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui penelitian yang menunjukkan bahwa lingkungan tempat tumbuh tanaman memengaruhi kandungan senyawa aktif serta manfaat biologisnya.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Applied Biochemistry and Biotechnology tersebut menggunakan pendekatan metabolomik berbasis Ultra High Performance Liquid Chromatography–High Resolution Mass Spectrometry (UHPLC-HRMS). Tim peneliti membandingkan profil metabolit anggrek merpati yang berasal dari Kebun Raya Bogor dan Taman Nasional Ujung Kulon.
Hasil analisis mengidentifikasi 48 jenis metabolit yang terdiri atas metabolit primer dan sekunder. Metabolit sekunder meliputi senyawa fenolik, flavonoid, alkaloid, dan terpenoid yang dikenal memiliki berbagai aktivitas biologis penting. Sementara itu, metabolit primer terdiri dari asam lemak, asam amino, serta turunannya.
Peneliti BRIN, Salsabila Aqila Putri, menjelaskan bahwa perbedaan kondisi lingkungan memengaruhi pembentukan senyawa tersebut sebagai bentuk adaptasi alami tanaman. Anggrek dari Kebun Raya Bogor memiliki kandungan asam lemak dan alkaloid lebih tinggi, diduga karena pengaruh urbanisasi dan tingginya kadar nitrogen tanah. Sebaliknya, anggrek yang tumbuh di Taman Nasional Ujung Kulon menghasilkan lebih banyak senyawa fenolik dan flavonoid akibat kondisi yang lebih kering sehingga tanaman mengalami stres air.
Perbedaan komposisi metabolit tersebut berdampak pada aktivitas biologinya. Ekstrak daun anggrek dari Taman Nasional Ujung Kulon menunjukkan kemampuan antioksidan paling tinggi pada pengujian ABTS dan FRAP. Sementara itu, ekstrak daun dari Kebun Raya Bogor memberikan hasil terbaik dalam uji antioksidan metode DPPH.
Kemampuan antibakterinya juga cukup menjanjikan. Ekstrak daun dan batang dari Kebun Raya Bogor efektif menghambat pertumbuhan bakteri Pseudomonas aeruginosa, sedangkan ekstrak batang dari Taman Nasional Ujung Kulon menunjukkan aktivitas terbaik terhadap Staphylococcus aureus.
Melalui simulasi komputasi, peneliti juga menemukan bahwa beberapa senyawa fenolik pada anggrek merpati mampu berikatan kuat dengan protein penting pembentuk dinding sel bakteri. Salah satu senyawa yang paling potensial adalah 4',6-dihydroxy-3'-methoxyaurone, yang diprediksi dapat menghambat pertumbuhan bakteri.