BRIN Kembangkan Teknologi Budi Daya Purwoceng, Solusi Jaga Tanaman Langka untuk Industri Herbal Nasional

Tanaman Purwoceng
Sumber :
  • IG/wisatajateng

Jakarta, WISATA – Purwoceng (Pimpinella pruatjan Molk.) dikenal sebagai salah satu tanaman herbal asli Indonesia yang memiliki banyak manfaat kesehatan. Namun, tanaman yang tumbuh alami di dataran tinggi seperti kawasan Dieng ini masih tergolong langka karena sulit dibudidayakan di luar habitat aslinya. Kondisi tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang bagi para peneliti untuk mengembangkan teknologi yang mampu menjaga kelestariannya.

img_title Wellness Presisi: Kenapa Personalisasi Berbasis Teknologi Kini Jadi Tuntutan, Bukan Sekadar Tren

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Tanaman Perkebunan BRIN, Ireng Darwati, menjelaskan bahwa purwoceng membutuhkan lingkungan yang sangat spesifik agar dapat tumbuh optimal. Tanaman ini memerlukan ketinggian sekitar 2.000–3.000 meter di atas permukaan laut, suhu 15–22 derajat Celsius, kelembapan tinggi, serta tanah dengan drainase baik. Selain itu, benih purwoceng memiliki masa dormansi sehingga harus melalui proses after-ripening sebelum ditanam.

Upaya budi daya di luar habitat alami masih menghadapi berbagai kendala. Berdasarkan hasil penelitian, pertumbuhan purwoceng di daerah lain baru menunjukkan hasil setelah tiga hingga lima tahun. Faktor seperti kandungan sulfur dalam tanah, keberadaan mikroorganisme, hingga karakter agroekosistem diduga menjadi penyebab lambatnya pertumbuhan tanaman tersebut.

img_title BRIN Kembangkan Pemuliaan Ikan Papuyu, Dorong Jadi Komoditas Akuakultur Unggulan Indonesia

Meski demikian, BRIN telah mengembangkan berbagai inovasi untuk mengatasi persoalan tersebut. Salah satunya melalui teknologi kultur jaringan yang pernah menghasilkan purwoceng toleran terhadap suhu lebih tinggi sehingga mampu tumbuh di dataran rendah sekitar 350 meter di atas permukaan laut. Sayangnya, penelitian tersebut belum berlanjut sehingga bahan tanamnya kini tidak lagi tersedia.

Selain teknik budi daya, BRIN juga mengembangkan teknologi kultur kalus dan kultur akar rambut (hairy root culture). Metode ini memungkinkan produksi metabolit sekunder dilakukan di laboratorium secara lebih stabil tanpa bergantung pada kondisi alam. Teknologi kultur akar rambut bahkan mampu menghasilkan akar dengan cepat tanpa tambahan hormon serta berpotensi dikembangkan menggunakan bioreaktor untuk kebutuhan industri.

img_title Peringkat 177 Dunia, NYCU Buktikan Perpaduan Kedokteran dan Teknologi Bisa Melahirkan Kampus Unggulan

Purwoceng diketahui mengandung berbagai senyawa aktif, seperti sitosterol, stigmasterol, flavonoid, tanin, alkaloid, dan furanokumarin. Kandungan tersebut berpotensi sebagai afrodisiak alami, antioksidan, antibakteri, antijamur, hingga kandidat bahan baku obat antikanker. Penelitian juga menunjukkan ekstrak purwoceng mampu meningkatkan kualitas sperma, termasuk pada ternak sapi untuk mendukung program inseminasi buatan.

Halaman Selanjutnya
img_title