Solusi Hijau dari Mikroalga: Menyingkap Rahasia Senyawa EPS Spirulina sp. dalam Menjaring Limbah Mikroplastik

Potong sampel mikroplastik masker sekali pakai (kiri), dan polipropilen (kanan)
Sumber :
  • www.tandfonline.com

Semarang, WISATA - Ancaman pencemaran mikroplastik di sumber air bersih dan limbah rumah tangga kini telah menjadi krisis lingkungan global yang menuntut solusi remediasi berkelanjutan. Serpihan plastik tak kasatmata berukuran mikro ini tidak hanya merusak rantai makanan di ekosistem perairan, tetapi juga membawa dampak serius bagi kesehatan manusia. Di tengah pencarian metode pembersihan lingkungan yang aman dan alami, dunia sains modern mulai melirik potensi mikroorganisme fotosintetik seperti mikroalga. Penelitian ilmiah populer ini disusun berdasarkan riset mutakhir bertajuk "Microplastic removal in aquatic systems using extracellular polymeric substances (EPS) of microalgae" yang dipublikasikan pada jurnal Sustainable Environment volume 11 tahun 2025.

img_title Sensasi Baju Pintar AIQ: Solusi Fleksibel Pemantau Stamina dan Stres Saat Traveling!

Tim peneliti yang dipimpin oleh Prof. H. Hadiyanto dari Pusat Biomassa dan Energi Terbarukan Universitas Diponegoro, Semarang, bersama para akademisi lintas disiplin dari Universitas Dian Nuswantoro dan Universitas Gadjah Mada, berhasil membuktikan bahwa mikroalga mampu mengeluarkan senyawa polisakarida khusus yang bertindak sebagai "lem alami" untuk mengendapkan partikel mikroplastik di air.

Mekanisme Stres Lingkungan dan Produksi Lem Alami Mikroalga

img_title Baju Pintar AIQ: Solusi Modis dan Canggih Pemantau Kesehatan Tubuh Tanpa Ribet Saat Liburan!

Dalam studi ilmiah tersebut, para peneliti melakukan serangkaian pengujian terhadap empat spesies mikroalga dan sianobakteria, yakni Spirulina sp., Tetraselmis chuii, Chlorella vulgaris, dan Dunaliella salina. Untuk merangsang pelepasan senyawa extracellular polymeric substances atau yang dikenal sebagai EPS, keempat jenis mikroalga ini sengaja dikondisikan di bawah kondisi stres lingkungan (environmental stress). Paparan stres tersebut meliputi penambahan partikel mikroplastik dari masker medis sekali pakai dan botol polypropylene (PP), peningkatan intensitas pencahayaan lampu hingga 1000 lux, serta peningkatan kadar nutrisi media tumbuh selama periode dua bulan.

Respons defensif mikroalga terhadap gangguan luar tersebut memicu sekresi jaringan polimer alami yang kaya akan polisakarida, protein, dan lipid. Senyawa EPS cair yang mengapung seperti lendir ini memiliki gugus fungsi fungsional yang mampu mengikat partikel mikroplastik, membentuk ikatan baru yang disebut hetero-aggregates. Proses bio-flokulasi ini membuat serpihan mikroplastik yang semula terombang-ambing melayang di dalam air saling bergumpal, bertambah berat, dan akhirnya mengendap secara alami ke dasar perairan sehingga sangat mudah untuk disaring.

Halaman Selanjutnya
img_title
img_title Lek Tau Suan, Bubur Mutiara Hijau Peranakan Pontianak yang Bikin Kangen Kampung Halaman